Belajar Rezeki Dari Sepasang Sepatu

Filosofi rezeki dari sepasang sepatu.

  • Dikisahkan seorang bapak tua yang sudah lama menunggu bus datang, tergopoh-gopoh segera menaiki tangga bus sebelum pintunya tertutup. Saking terburu-burunya, sebelah sepatunya jadi lepas dan tertinggal di jalanan. Pintu bus tertutup dan dia gak sempat memungut sepatunya yang terjatuh sebelah itu. Bukannya muram, malah dengan sigapnya bapak tua itu melepas sepatunya yang satu lagi dan melemparnya keluar jendela, kemudian berjalan santai dengan kaki telanjang menuju tempat duduknya.
  • Seorang pemuda yang melihat kejadian itu dan kebetulan duduk di sebelah Pak Tua itu penasaran dengan sikapnya tadi, kemudian bertanya, mengapa Pak Tua melakukan hal itu. Melempar sepatunya ke jalanan dan berjalan santai tanpa beban meskipun harus bertelanjang kaki karena kehilangan sepatu?

a. Sepatu takdirnya berpasangan.
  • Pak tua itu tersenyum dan berkata bahwa siapapun yang menemukan sepatunya bakal bisa memanfaatkannya. Karena sepatu ditakdirkan untuk berpasangan, kalo cuma sebelah kan gak mungkin bisa dipake. Apalagi sepatunya itu masih bagus dan masih layak pakai. Mungkin ada gelandangan yang butuh sepatu, bisa memakainya. Atau mereka yang miskin dan butuh uang bisa menjualnya.
  • Begitu juga dengan kita manusia pasti berpasangan dengan rezeki kita. Gak ada manusia yang terlahir gak punya rezeki. Setiap orang terlahir membawa rezekinya sendiri. Itu sebabnya orangtua dilarang membunuh anaknya karena kemiskinan, karena seorang anak lahir membawa rezekinya sendiri. Rezeki itu akan diberi bersama dengan rezeki orangtuanya.

b. Jangan menyepelekan sesuatu.
  • Sepatu meskipun terkesan sepele adalah benda yang berharga. Kita gak mungkin berjalan bertelanjang kaki, selain kaki kita bisa tertusuk benda tajam, juga bisa kedinginan atau kepanasan karena aspal terik di siang hari. Sama halnya dengan pakaian yang melindungi tubuh, sepatu juga diperlukan untuk melindungi kaki.
  • Apapun yang diberi Allah pasti punya manfaat, meskipun terkesan sepele pasti ada gunanya. Syukuri apa yang diberi Allah. Rezeki sedikit pun perlu disyukuri, karena kebahagiaan gak ditentukan oleh banyak tidaknya rezeki. Rezeki sedikit jika bisa dimanfaatkan dengan baik jauh lebih baik daripada rezeki banyak tapi gak dimanfaatkan untuk menambah tabungan amal.
  • Jangan melihat seberapa kecil rezekimu tapi lihatlah seberapa besar Zat yang memberi.

c. Fokuslah pada tujuan
  • Saat dipake berjalan gerakannya bisa berbeda. Sepatu kiri ke belakang dan sepatu kanan di depan. Meskipun gerakannya berbeda tapi tujuannya sama, yaitu membuat pemakainya melangkah.
  • Begitupun dengan pasang surutnya rezeki yang kita terima harusnya gak mengubah keimanan kita. Rezeki banyak atau sedikit gak ngaruh dengan ketakwaan kita. Karena tujuan kita jelas yaitu untuk meraih keridhaan Allah SWT. Rezeki banyak atau sedikit hanya pelengkap untuk mencapai tujuan tersebut. Rezeki bukan tujuan tapi alat untuk mencapai tujuan. Kita bekerjasama dengan rezeki, kita mengkaryakannya untuk mencapai tujuan kita, menggunakannya untuk mempersiapkan bekal amal menuju kampung akhirat yang abadi.

d. Ketahuilah posisimu.
  • Sepatu gak pernah menuntut untuk berganti posisi. Sepatu kanan untuk kaki kanan dan sepatu kiri untuk kaki kiri. Gak pernah menuntut untuk berganti posisi karena tau kalo berganti posisi penggunanya gak bisa melangkah dengan baik, bahkan bisa jatuh terjerembab dan melukainya. Mereka berbeda posisi tapi saling melengkapi
  • Begitu juga kita manusia, syukuri rezeki yang diberi Allah SWT. Karena Allah sudah membagi rezeki bagi si miskin dan si kaya secara adil. Kaya bukan tanda mulia dan miskin bukan tanda hina. Gak perlu minta berganti posisi karena masing-masing udah jelas perannya di dunia ini. Orang kaya butuh orang miskin untuk disedekahi. Orang miskin butuh orang kaya untuk memberdayakannya. Mereka harus saling bekerjasama, saling melengkapi menjadi khalifah, mengelola bumi ini dengan baik. Bukankah mereka diciptakan untuk mengabdi padaNya bukan untuk protes atas nasibnya? Allah sudah menentukan mana posisi yang terbaik bagi setiap hambaNya..

e. Saling bekerjasama.
  • Sepasang sepatu harus bekerjasama untuk menghasilkan langkah yang seirama. Jika yang satu lompat maka sepatu yang lainnya juga ikut melompat untuk menghasilkan lompatan yang tinggi.
  • Begitu juga dengan kehidupan ini. Kita harus saling bekerjasama dengan orang lain, saling menghargai, saling bantu membantu untuk menghasilkan harmoni kehidupan yang seimbang dan selaras. Kita mesti menjaga bumi ini, jangan merusaknya. Tapi gunakan sesuai kebutuhan kita. Gak ada eksploitasi ataupun memeras kekayaan alam sedemikian rupa. Mengapa selama ini banyak bencana dan kerusakan di bumi? Karena kita gak menggunakan sumberdaya alam, rezeki yang dianugerahkan Allah untuk memenuhi kebutuhan kita secara bijak. Kita ditutupi oleh keserakahan dan nafsu.

f. Sederajat.
  • Sepatu itu memang berbeda posisi tapi selalu sejajar, sederajat, gak ada yang lebih tinggi dibanding yang lain. Sepatu memang diciptakan berbeda tapi fungsinya saling melengkapi satu sama lain. Bentuknya sama, ukurannya sama dan fungsinya juga sama.
  • Begitu juga dengan kita manusia. Kita diciptakan berbeda warna kulit, berbeda tempat tinggal, berbeda bangsa, bahkan berbeda jumlah rezekinya, tapi kita semua sederajat di hadapan Allah. Gak ada bangsa yang lebih tinggi dari bangsa lainnya. Gak ada manusia yang lebih bagus derajatnya dibanding manusia lainnya. Yang membedakannya hanya amalnya. Itupun hak prerogatif Allah yang menilai amalan tersebut. Jadi gak usah sok sibuk menghisab dosa orang lain. Karena belum tentu kita jauh lebih baik dari mereka. Gak perlu sombong karena kita belum tentu lebih baik dari orang yang kita rendahkan.

g. Saling mendukung.
  • Saat memakai sepatu, keduanya akan selalu bersama dan mengikuti irama kaki pemiliknya. Saat menaiki tangga, keduanya harus ikut. Gak mungkin kaki kanan menaiki tangga dan kaki kiri gak ikutan. Karena mereka ditakdirkan untuk saling mendukung.
  • Manusia juga begitu. Kita diciptakan saling berbangsa, bersuku-suku, berbeda keyakinan untuk saling mendukung. Perbedaan itu anugerah. Perbedaan bukan jalan untuk saling menjatuhkan dan melecehkan. Justru perbedaan itu membuat kita bisa saling menghargai dan bertoleransi. Kita harus jadi rahmatan lil alamin bahkan bagi penganut agama yang berbeda dengan kita. Gak ada perang dan perlawanan kecuali jika mereka mengganggu dan membahayakan kita.

h. Jika satu hilang yang lain gak berarti.
  • Jika salah satu sepatu hilang maka sebelahnya jadi gak berarti karena gak bisa dipakai. Takdir sebuah sepatu adalah berpasangan. Mereka bisa dimanfaatkan jika jumlahnya sepasang. Itupun harus yang kanan dan kiri. Jika sepasang sepatu semuanya sepatu kanan pasti gak bisa dipakai bukan?
  • Begiu juga dalam kehidupan. Suami isteri adalah ibarat sepasang sepatu yang harus saling mendukung dalam rumah tangga. Rezeki mudah masuk dalam rumah tangga yang damai, yang saling mengasihi dan melengkapi. Rumah tangga yang selalu dihiasi pertengkaran dan kebohongan rezekinya jauh. (baca : apakah perceraian menghalangi rezeki?).
  • Harta itu hanya titipan, nyawa pun cuma pinjaman. Kehilangan itu gak bisa pilih-pilih, bisa kehilangan siapa aja, apa saja dan kapan saja. Bagi orang beriman kehilangan akan memberikan banyak pelajaran padanya. Dapat berkah disyukuri dan berbuat salah diimbangi dengan taubat. Taubat atas dosa, bisa mengembalikan keseimbangan dalam hidup manusia yang goyah karena maksiat, dosa dan kesalahan.
Demikianlah sepasang sepatu mengajarkan kita banyak kebijaksanaan, terutama yang terkait dengan rezeki. 

Wallahu alam..

0 Response to "Belajar Rezeki Dari Sepasang Sepatu"

Post a Comment