Efek Dari Rezeki Haram

Jangan sekali-kali makan rezeki haram karena efeknya berbahaya...

1) Amalan tertolak selama 40 hari.
  • Rugi kita beribadah, berharap belas kasihan Allah, berharap Allah akan menurunkan rezeki yang banyak pada kita, tapi kita tumbuh dari makan rezeki haram. Wajar saja jika ibadah kita tertolak selama 40 hari. Saat makan rezeki halal pun belum tentu ibadah kita diterima, apalagi kalau sudah jelas-jelas tertolak?
  • Hadits Rasulullah mempertegas hal ini.
... Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada orang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh drai hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya (H.R.Thabrani)

haram


2. Hilangnya keberkahan rezekinya.
  • Nilai keberkahan harta bukan ditentukan oleh jumlahnya tapi oleh cara perolehannya dan cara pembelanjaannya. Inilah memang yang nantinya akan ditanyakan di akhirat nanti, hartamu sumbernya dari mana dan kemana kamu belanjakan.
  • Perolehan rezeki yang tidak syar'i maka keberkahannya akan hilang. Contoh paling sederhana adalah mencari rezeki dengan praktek riba. Allah sendiri menyatakan akan mencabut keberkahannya mereka yang suka mencari rezeki dengan riba. Hal itu difirmankan Allah pada Surah Al Baqarah ayat 275. 
riba

3. Mengikis keimanan

  • Pernahkah anda memperhatikan orang yang menyatakan dirinya sebagai orang Islam tapi tetap melakukan dosa, maksiat dan perbuatan keji? Ia tak malu-malu korupsi, tak segan berzina, tak merasa berdosa mengambil apa yang bukan haknya, suka sengaja meninggalkan ibadah. Bisa jadi yang bersangkutan sering mengkonsumsi makanan dan minuman haram, sehingga sudah tertutup hati nuraninya dari cahaya Ilahi. Dia sudah tidak bisa membedakan mana yang haram dan halal, bukan karena tidak tahu tapi sudah tak perduli lagi.
  • Rasulullah mengatakan, 
Tidaklah peminum khamr, ketika ia meminum khamr termasuk seorang mukmin (H.R. Bukhari Muslim).
  • Jadi seorang yang minum khamr pada saat meminumnya dia bukanlah seorang mukmin, melainkan hamba Allah yang melakukan dosa karena tertutup hatinya.

4. Kekal di neraka.

  • Selain surah Al Baqarah ayat 275 di atas yang tegas-tegas menegaskan bahwa para pemakan rezeki haram dalam hal ini riba akan masuk neraka dan mereka kekal di dalamnya, hadits Rasulullah pun mempertegas hal itu. 


5. Mengeraskan hati
  • Seseorang yang kita kenal sebagai orang baik tapi sangat susah untuk mendapatkan hidayah dan sulit menerima kebenaran bisa jadi hobinya makan dan minum dari yang haram, mencari rezeki lewat jalan yang haram, membelanjakan rezekinya (meskipun didapat dengan cara halal) secara haram (seperti upah menjadi pekerja dipakai beli narkoba / minuman keras dan teler bersama teman-teman). 
  • Imam Ahmad ra pernah ditanya oleh seseorang, apa yang harus dilakukan agar hati mudah sabar? Beliau menjawab, "dengan memakan makanan halal".

Melihat efeknya yang sangat berbahaya, jagalah diri dan keluarga dari rezeki haram dengan :
  1. Tidak mencari rezeki kecuali dengan jalan halal / yang dibolehkan agama. Sedikitpun tak apa-apa yang penting berkah.
  2. Tidak memakan makanan dan minuman yang diharamkan Allah. Periksalah selalu makanan yang anda makan, pastikan kehalalannya. Jika diragukan kehalalannya sebaiknya jangan dimakan atau diminum.
  3. Tidak membelanjakan rezeki halal di jalan yang haram. Seperti membeli narkoba, membeli senjata untuk membunuh orang, membeli motor untuk dijadikan kendaraan aksi kejahatan (begal motor, jambret, dsb).
Wallahu alam..

Rambu-Rambu Orang Beriman Dalam Memandang dan Memperlakukan Rezeki

Rambu-rambu yang harus diperhatikan oleh orang beriman dalam memandang dan memperlakukan rezekinya.

1) Memilih rezeki yang halal.

  • Hidup ini pilihan. Termasuk memilih untuk mencari rezeki dengan cara yang halal maupun yang haram. Pilihlah rezeki yang halal menurut pertimbangan syariat dan thayyib (baik) dalam pertimbangan kemaslahatan hidup.
  • Makanlah makanan yang halal, karena makanan haram akan membuat amalannya tertolak selama 40 hari.
... Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, sungguh jika ada orang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh drai hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya (H.R.Thabrani)


2) Mensyukuri rezeki.
  • Jadilah pribadi yang selalu bersyukur atas rezeki yang anugerahkan Allah pada kita. Banyak sedikit, cepat atau lambat, sesuai keinginan atau tidak semua diterima dengan hati lapang dan ridha. Karena kita tahu bahwa itulah yang terbaik untuk kita. Tak ada rasa dongkol, ngedumel, protes apalagi hujan keluhan hanya karena rezeki tak sesuai harapan.


3) Tidak melampaui batas.
  • Terimalah rezeki yang diberi Allah dengan perasaan syukur dan janganlah menjadi orang yang melampaui batas. Mentang-mentang bisa membeli makanan yang mahal, makan sampai kekenyangan, itupun tak dihabiskan, sebagiannya dibuang-buang dan jadi mubazir. Padahal mubazir itu menghambat rezeki.
  • Bagi sebagian yang lain menjadikan rezekinya untuk bermegah-megahan, berjalan di muka bumi dengan langkah yang sombong. Sikapnya jadi lupa daratan selalu merasa cukup seolah tidak membutuhkan Allah lagi.


4) Berinfak dan bersedekah.
  • Apa yang harus dilakukan saat rezeki sudah di tangan? Berbagilah dengan orang lain. Jangan lupa berinfak atau bersedekah pada orang lain, bukan untuk dibilang dermawan tapi karena pemenuhan hajat hati nurani, dorongan iman, keyakinan akan jaminan dan janji Allah. Sedekah juga mengasah kepedulian pada orang lain.

5) Yakin Allah sebagai sumber rezeki.
  • Meyakini bahwa sumber dari segala sumber rezeki adalah Allah SWT, karena Dialah yang menciptakan, memelihara dan mengelola keperluan setiap mahluk ciptaanNya. Di luar itu hanya wasilah, mediator atas rezeki yang diperolehnya. 


Jangan merasa jadi orang beriman jika menyikapi rezeki tidak memenuhi rambu-rambu di atas !

Wallahu alam..

Ada Di Manakah Rezeki Itu?

Semua orang sibuk mencari rezeki.

  • Lihat saja manusia modern ini, setiap hari bersibuk ria mencari rezeki Allah. Pergi pagi pulang sore, bekerja membanting tulang hanya untuk mendapatkan rezeki Ilahi. Kadang dapat banyak, kadang juga sedikit bahkan tak jarang tak dapat apa-apa, pulang ke rumah dengan tangan kosong. Sebenarnya rezeki itu ada di mana sih? Kok semua orang sibuk mencarinya? Bahkan kecederungan akhir-akhir ini manusia malah meributkan rezekinya.
rezeki Allah


Rezeki, ada di manakah dirimu?

  • Kalau ada yang bertanya seperti itu, jawabannya gampang sekali rezeki itu DI TANGAN ALLAH. Bukankah Dia Pembagi Rezeki? Silakan baca kembali artikel ini kalo rezeki sudah dijamin kenapa masih ada yang miskin, kekurangan dan kelaparan? Ya.. rezeki ada di tangan Allah.
  • Supaya dapat bagian ya.. kita harus minta. Kalau kita ingin mendapatkan rezeki yang berlimpah, mintalah kepada Allah. Jangan kepada setan, gunung, pohon besar atau dukun! Sebab hanya Allah yang mampu memberikan rezeki itu untuk manusia. (baca : cara agar doa bisa jadi senjata efektif penarik rezeki)
  • Meminta rezeki kepada Allah bukan berarti cukup hanya dengan berdoa dan berdiam diri di mesjid, tapi kita harus bangkit berdiri, menyingsingkan lengan baju, mengencangkan ikat pinggang untuk bekerja dan berikhtiar mencari rezeki, singkatnya rezeki itu wajib dicari dan jemput lewat ikhtiar, karena rezeki tidak begitu saja turun dari langit.

Bentuk-bentuk rezeki Allah.

  • Kadang kita tak menyadari kalau sebenarnya kita sudah banyak rezeki tapi kita sendiri tak tahu kalau itulah rezeki kita. Kita terlalu sering mempersempit rezeki dengan uang. "Wah lagi banyak rezeki nih" (artinya lagi banyak duit). "Bagi rezeki dong !" (maksudnya bagi duit). Itulah percakapan kita sehari-hari. Kita membatasi rezeki hanya berbentuk duit atau uang. Padahal uang hanya alat tukar ciptaan manusia. Uang itu nanti ada belakangan. Sebelum nya manusia melakukan kegiatan ekonomi dengan sistem barter alias tukar menukar. Petani menukar hasil taninya dengan hewan ternak pada peternak. Peternak menukar hewan ternaknya dengan pakaian pada penjahit. Begitu seterusnya.
  • Agar nyadar bahwa sebenarnya kita sudah banyak rezeki, silahkan perhatikan bentuk-bentuk rezeki Allah yang dijelaskan dalam Al Quran. Rezeki Allah itu bisa berupa :


1) PEMBERIAN
Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum kematian datang pada salah seorang diantara kamu, lalu dia berkata (menyesali). "Ya Tuhanku, jika saja sekiranya Engkau bersedia menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh. (Q.S. Al Munafiqun : 10).
  • Dalam ayat di atas jelas sekali bahwa apa saja yang diberikan Allah pada kita adalah rezeki. Kita diberi penglihatan, pendengaran, mulut untuk mengecap dan merasa makanan, kaki untuk berjalan dan tangan untuk beraktivitas, semua itu rezeki. Masih belum merasa punya banyak rezeki, sementara kita memiliki tubuh yang sempurna?
  • Allah memberi kita harta dan perbedaharaan yang banyak bukan untuk ditumpuk tapi untuk dibagi dan diinfakkan sebagian bagi keluarga dan saudara yang membutuhkan. Infak adalah sebagai bentuk rasa syukur pada Allah yang telah memberikan rezeki dan bentuk amal saleh. 

2) MAKANAN
Mereka tak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezekinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang (Q.S. Maryam : 60).
  • Ahli tafsir Qatadah menjelaskan bahwa di surga ada saat-saat seperti pagi dan petang tapi tidak ada hitungan siang dan malam. Sebab selalu bersinar dan bercahaya. Kata Mujahid, di sana tidak ada yang kita namai pagi dan petang seperti di dunia, tapi kepada mereka dibawakan apa saja yang mereka ingini di dunia ini. Menurut keterangan Hasan Al Bishri dna Qatadah pula, karena kebiasaan orang Arab hidup bersenang-senang dengan makanan pagi dan makanan malam, maka diturunkanlah Al Quran memberikan penjelasan  mengenai apa yang mereka kenangkan, tentang nikmat dalam surga itu.
  • Jadi semua makanan yang anda makan setiap hari itu adalah rezeki dari Allah, meski anda hanya makan satu kali saja, itu tetaplah rezeki. Soal cukup atau tidak itu hanya perasaan manusia saja, karena Allah selalu memberi rezeki yang cukup dan pas untuk hambaNya. Bayangkan jika Allah tak menyertakan rezeki makanan maka tak ada manusia yang bisa bertahan hidup, karena makananlah sumber energinya untuk bergerak dan beraktivitas.

3) HUJAN.
Di langit ada (sebab-sebab) rezekimu (hujan) dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu (Q.S. Az Zariyat : 22).
  • Apakah hujan itu rezeki? Tentu saja, karena dengan hujan itu menumbuhkan makanan manusia, seperti padi, palawija, kacang-kacangan, sayuran dan buah-buahan. Hujan juga mengairi sawah, sungai, lautan. Sebagai sumber air minum, mandi, mencuci. (baca : apa hujan menandakan limpahan rezeki?).

4) BUAH-BUAHAN.
Setiap Zakaria masuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati rezeki (buah-buahan) di sisinya. Zakaria bertanya, "Hai Maryam dari manakah kamu memperoleh (buah-buahan/makanan) ini?". Maryam menjawab, "makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab (Q.S. Al Imran : 37).
  •  Nabi Zakaria as adalah pemelihara Siti Maryam, ibunda Nabi Isa as yang memang telah diniatkan ibunya untuk bermihrab di Baitul Maqdis. Anehnya setiap kali Nabi Zakaria as masuk mengantarkan makanan untuk Maryam dia selalu menemukan buah-buahan, bahkan buah-buahan musim panas didapati di musim dingin dan buah-buahan musim dingin didapati di musim panas. Akhirya Nabi Zakaria bertanya sumber buah-buahan itu dan dijawab oleh Maryam kalau itu dari Allah SWT.
  • Buah-buahan yang beraneka rasanya mulai dari apel, rambutan, semangka, sawo, nangka, lengkeng, mangga, pisang adalah rezeki yang diberikan Allah untuk kita. Kita bisa merasakan nikmatnya buah-buahan yang beraneka tersebut.

5) NAFKAH SUAMI
.....Dan kewajiban ayah memberi rezeki (nafkah pada para ibu) dengan cara yang baik (Q.S.Al Baqarah : 233).
  • Jika anda adalah para isteri yang setiap bulan menerima jatah gaji suami, atau diberikan uang belanja oleh suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, itu adalah rezeki anda dari Allah yang diberikan lewat tangan suami, sebagai bentuk pertanggung jawabannya pada diri anda, isterinya.
  • Karena itu menjadi kewajiban anda untuk bersyukur pada Allah dan berterima kasih atas semua pemberian / nafkah suami. Besar atau sedikit yang diberinya setiap bulan, hargailah, karena itulah kesanggupannya. Jangan membebani suami dengan meminta nafkah di luar kesanggupannya.
rezeki

6) SURGA
....Dan barangsiapa mengerjakan amal saleh niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah memberikan rezeki yang baik padanya.
  • Rezeki surga memang belum dirasakan di dunia, tapi inilah rezeki yang nilainya paling tinggi, karena akan dinikmati di alam kekal nantinya di akhirat. Tapi untuk memperolehnya butuh usaha dan amal saleh yang terus menerus. (baca : inilah rezeki dan nikmat terbesar manusia)

KESIMPULAN

  • Rezeki ada di tangan Allah. Manusia tidak bisa menentukan banyak sedikitnya dan cepat atau lambatnya rezekinya diterima. Karena hal itu hak prerogatif Allah.
  • Hendaknya kita tidak menyempitkan arti rezeki Allah hanya sebatas uang dan harta. Hakikatnya rezeki itu adalah segala sesuatu yang diberikan Allah untuk memelihara kehidupan manusia, baik berupa uang, nafkah, makanan, keuntungan dan sebagainya. 
  • Rezeki juga adalah semua yang kita dapatkan dan kita miliki, baik sedikit atau banyak. Dalam arti luas rezeki adalah segala kehidupan yang kita rasakan. Segala pemberian Allah SWT yang dapat dimanfaatkan baik material maupun spiritual.
  • Wallahu alam.

Manusia Yang Ribut Soal Rezeki Adalah Manusia yang Tak Tahu Diri

Ribut-ribut soal rezeki

  • Kondisi ekonomi lagi sulit, harga-harga pada naik sementara gaji tetap, daya beli jadi menurun, kebutuhan makin banyak, itulah keluhan manusia modern saat ini. Mereka meributkan soal rezeki yang seret, rezeki yang kayaknya macet, rezeki yang makin menurun. Mereka mulai merasa putus asa dan bingung harus melakukan apa. Sampai ada yang bikin statement, "rezeki haram aja susah dicari apalagi yang halal ?" (baca : kenaikan harga dan kepastian akan rezeki Allah)
  • Betulkah rezeki kita terus menurun? Apa Allah sudah tak sayang sama kita lagi? Apa Allah menghukum kita? Apa Allah terus menerus memberi cobaan pada kita? Kok hidup tiap hari makin sulit? Kebutuhan makin banyak, anak istri banyak tuntutan, pekerjaan yang melelahkan tapi upahnya tak sepadan, harga bahan pokok meroket, jangankan sempat menikmati hiburan dan rekreasi beli sembako saja harus nyicil atau malah ngutang. Kapan pertolongan Allah datang?
  • Itulah ribut-ribut soal rezeki yang melanda manusia modern.
  • Pernah tidak anda memperhatikan banyaknya binatang melata yang kecil seperti ulat bulu pada gambar di bawah ini? Apa pernah dia meributkan rezekinya? Tidak bukan? Karena dia tahu bahwa fokusnya bukan meributkan rezeki karena semua itu sudah dijamin Allah. Dia hanya fokus pada tugasnya untuk selalu bertasbih padaNya.


Manusia terlalu banyak mengeluh.

  • Manusia yang ribut dengan rezeki adalah manusia yang tak tahu diri dan takk bersyukur. Kalau mereka meributkan soal rezeki artinya mereka meributkan biaya operasional kehidupannya. Sama seperti seorang bawahan yang diperintahkan oleh atasannya untuk melakukan tugas perjalanan dinas ke luar daerah. Bukannya memikirkan jenis tugas, lokasi penugasan, strategi melaksanakan tugas, mengirganisir personil, mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, tapi ia malah sibuk dengan perhitungan dan upaya mendapatkan perjalanan dinas yang lebih banyak, akomodasi plus bonus liburan dan oleh-oleh. Bagaimana jika kita yang menjadi atasannya? Jangankan memberikan biaya perjalanan, penugasannya mungkin akan kita batalkan.
  • Sama dengan kita manusia ciptaan Allah. Sudah jelas tugas manusia di bumi adalah untuk mengabdi kepada Allah. Lalu bukannya sibuk beribadah kita malah meributkan rezekiNya? Tidak cukup lah, kurang lah, macet lah, terhambat lah ! Seolah-olah kita hidup hanya untuk mencari rezekiNya, menerima rezeki itu, lalu mati, selesai !
  • Allah adalah Tuhan semesta alam. Alam manusia, alam semesta, alam fana dan alam akhirat yang kekal. Penciptaan mahluk tadinya tidak ada menjadi ada. Allah yang menciptakan kita, menetapkan jaminan pemeliharaan atas semua ciptaanNya (sama seperti kita memberi barang elektronik, pasti ada garansi dari pembuatnya, bukan?). Bentuk jaminan pemeliharaan ini adalah pasokan rezeki yang kontinu dan terus menerus. Sepanjang manusia berada dalam kontrak kehidupan dunia, sepanjang itu pula pasokan rezeki dariNya terus mengalir, sehingga rezeki itu built in package (paket yang sudah ada) dengan penciptaan manusia.


Bumi dan langit serta isinya adalah rezeki manusia.

  • Langit dengan segala aktivitas kosmosnya, bumi dengan bentang alam dan segala isinya, diciptakan Allah SWT sebagai alt produksi rezeki untuk umat manusia. Dengan demikian, langit, bumi dan isinya juga adalah rezeki kita. 
  • Coba perhatikan bagaimana terbentuknya hujan. Awalnya terjadi penguapan sumber-sumber air di atas permukaan bumi yang dipanaskan oleh sinar matahari. Lalu air berubah wujud menjadi gas dengan kandungan hidrogen dan oksigen lalu di bawa ke angkasa. Karena perbedaan suhu di ketinggian terjadilah proses kondensasi yaitu perubahan wujud dari gas menjadi titik-titik air. Pada ketinggian tertentu malah membeku, lalu kembali ke bumi dalam bentuk tetesan air hujan atau hujan es. Sesampainya di bumi air diserap oleh oase di padang pasir, ada yang mengalir di permukaan, ada yang menggenang menjadi danau, menyirami hutan, kebun, sawah dan ladang, mengaliri sungai sampai ke laut. 
  • Kemudian air ini dimanfaatkan oleh mahluk, mulai dari mahluk bersel satu hingga yang bertubuh raksasa, dari semut di daratan sampai plankton di lautan. Siklus ini terus terjadi dan menghidupkan bumi dan segala isinya. Di sanalah kita manusia memperoleh rezekinya, lewat buah-buahan, padi, palawija, serealia sampai hewan ternak untuk jadi makanan kita. Semua sudah tersedia bahkan sebelum kita lahir. (baca : mau rezeki berkah, bersyukurlah atas makanan kita)
  • Lalu nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Q.S. Ar Rahman : 13). Hitunglah rezekimu dan berhentilah mengeluh !
  • Bumi ini adalah mahakarya Sang pencipta, karena itu sudah selayaknya kita bersyukur dan berterima kasih padaNya. Bukannya malah jadi hamba yang tak tahu diri dan terus meributkan rezekinya. Syukur akan menjadikan kita sadar akan kelemahan dan ketidakberdayaan kita sebagai hamba. Kita bukanlah apa-apa dibanding kekuasanNya, kita bukanlah siapa-siapa di hadapanNya, kita yang butuh Dia, bukan sebaliknya. Mestinya kesadaran ini menundukkan jiwa kita untuk melakukan sebuah penyerahan diri kepada Sang pencipta dan mewujudkan taqwa sebenar-benarnya padaNya.
Wallahu alam..

Bolehkah Pendakwah Dijadikan Profesi Untuk Mencari Rezeki?

Menjadi pendakwah (da'i) itu panggilan.

  • Katakanlah ada seorang pemuda jebolan pesantren dan bertekad melanjutkan pekerjaan para nabi yaitu menjadi penggiat dakwah. Dia sangat memahami hadits Rasulullah untuk menyampaikan walaupun hanya satu ayat. Ia merasa perlu untuk menyampaikan apa yang telah dipelajarinya di pesantren kepada umat, agar umat bisa mengetahui jalan yang benar dan bersama-sama menuju keridhaan Allah SWT.
  • Menjadi pendakwah itu panggilan, karena tidak semua muslim bersedia untuk menyampaikan apa yang diketahuinya. Tidak semua muslim mampu berdiri di depan orang banyak menyampaikan kebenaran. Tidak semua muslim mau menyisihkan waktu mempelajari Al Quran dan hadits lalu mengajarkannya pada orang lain. Tidak semua muslim mau menjadi dai yang dianggap profesi yang susah kaya.... Mending jadi dokter, arsitek atau pebisnis sukses yang sudah jelas bisa ngasilin duit lebih banyak. Jadi pendakwah..??? mmmmm.... (mikir)

  • Lanjut pada cerita anak muda di atas. Dia mulai meluruskan niat dan bertekad bahwa niatnya menjadi pendakwah semata-mata karena Allah Taala sehingga tak ingin aktivitasnya ternoda oleh amplop berisi uang yang diberikan sebagai balas jasa atas ceramah yang disampaikannya. Tapi sebagai manusia, dia butuh uang dan penghasilan tetap untuk hidup. Menerima uang sebagai balas jasa itu sama saja merendahkan diri baginya. Dia berharap bahwa balas jasa yang diterimanya hanya dari Allah seperti niatnya semula. 
  • Tapi bagaimana dengan kebutuhan hidupnya? Dia perlu makan, perlu berpakaian, perlu tempat tinggal bahkan butuh kendaraan untuk membantunya menuju tempat ceramah. Tapi semua itu butuh uang. Bagaimana kalau amplop berisi uang itu diterima saja? Toh niatnya tetap untuk Allah, amplop berisi uang itu juga rezeki dari Allah bukan?



Keperluan hidup versus tujuan hidup

  • Bagi seorang da'i perbedaan antara tujuan hidup dan keperluan hidup itu sangat jelas. Keperluan hidup adalah semua yang dibutuhkan untuk hidup, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, kendaraan, hubungan sosial dan berkeluarga. Tujuan hidupnya adalah meraih keridhaan Allah SWT melalui amal ibadahnya termasuk lewat aktivitas dakwah dan ceramahnya. 
  • Meski sangat paham bahwa rezeki sudah dijamin Allah, sang da'i pun tahu bahwa rezeki takkan datang lewat berpangku tangan, tapi wajib diupayakan dengan usaha. Usaha ini yang menjadi tanda tanya. Apakah boleh pendakwah itu dianggap profesi yang ngasilin duit untuk membiayai keperluan hidup? Atau mencari profesi lain sebagai penopang hidup tanpa harus berhenti jadi penggiat dakwah?
  • Banyak pendakwah yang memilih pekerjaan sebagai usahawan, penjahit, usaha katering dan profesi penghasil uang lainnya untuk memenuhi keperluan hidupnya. Tapi tidak sedikit juga pendakwah yang menjadikan aktivitas dakwahnya sebagai profesi dan menentukan tarif sesuai durasi/lama ceramahnya. Beberapa diantaranya pun mengiklankan dirinya agar dipanggil ceramah pada kelompok pengajian atau majelis taklim tertentu, tentu saja dengan imbalan setelah ceramah selesai. Kalau imbalannya cocok, kalau diundang kali berikutnya semangat, tapi kalau imbalannya tak seindah harapan, ogah datang kalau diundang lagi.

Bolehkah pendakwah dijadikan profesi buat nyari rezeki?

  • Bukan kapasitas saya untuk mengatakan BOLEH atau TIDAK BOLEH. Karena sekali lagi ini adalah pilihan hidup. Saya sangat menghargai mereka yang mengabdikan hidupnya di jalan dakwah, menyebarluaskan kebaikan dan mengajak pada kebenaran itu sangat mulia. 
  • Tapi saya punya pemikiran sendiri bahwa seorang penggiat dakwah, balasannya adalah dari Allah SWT. Idealismenya untuk lillahi taala harusnya makin kokoh dan tak tercemari hal-hal yang sifatnya duniawi.
  • Bila setiap pendakwah memiliki sumber penghasilan sendiri dan tidak menjadikan pendakwah sebagai profesi untuk mencari nafkah, mencari materi, itu jauh lebih baik, alasannya :

# 1. LEBIH TERHORMAT
  • Jika seorang pendakwah punya sumber penghasilan sendiri untuk memenuhi keperluan hidupnya selain dari infak umat, alangkah terhormatnya mereka. Mereka memikirkan umat tanpa harus jadi beban umat. Kehormatan mereka tetap terjaga, karena mereka ini mandiri secara ekonomi. Apalagi kalau kegiatan ekonominya mampu ditingkatkan dan ditangani secara profesional, diperlakukan sebagai sebuah bisnis yang serius maka hasilnya pun bisa lebih banyak dan leih bermanfaat bagi umat juga. Lewat bisnis tersebut menyerap tenaga kerja, memutar roda ekonomi dan memberdayakan umat. 
  • Mereka juga jauh lebih dihormati dan disegani oleh umat, karena paham bahwa tujuannya berdakwah karena Allah semata dan tak bersedia menerima amplop berisi uang. Bukan karena tak butuh tapi semata-mata memurnikan niat.

# 2. LEBIH FOKUS
  • Bukan rahasia lagi kalau banyak pendakwah yang terlalaikan dari tujuan hidupnya untuk berdakwah karena fokus mencari materi (harta) agar dapat memenuhi keperluan hidupnya. Jadinya dia tidak fokus dengan isi ceramah dan materi yang disampaikannya, karena padatnya jadwal yang harus dipenuhinya dari undangan satu ke undangan lainnya demi "kejar setoran". 
  • Tapi jika seorang pendakwah bisa memenuhi keperluannya dari profesi lainnya, dia bisa lebih fokus memikirkan umat, bisa memperhatikan materi yang akan disampaikannya dan tak perlu harus lelah " mengejar setoran" dari satu acara ke acara lainnya. (baca : bagaimana Islam memandang rezeki dan harta)

# 3. TAK TERCEMARI NIATNYA.
  • Menjadi penggiat dakwah itu niatnya harus lillahi taala, hanya karena Allah. Memurnikan niat ini yang perlu dijaga oleh setiap da'i. Kalau motif dakwah sudah tercemari oleh materi agak sulit mengharapkan isi ceramahnya berbobot. Karena kadang isi ceramah harus sesuai dengan pesanan alias kehendak si pemesan (pernah memperhatikan pendakwah yang ikut dalam kampanye calon yang ikut pilkada?). Sang pemesan berani membayar mahal yang penting materi ceramahnya harus mengajak orang memilih kandidat tertentu misalnya. Akhirnya ceramahnya jadi tak independen dan sepihak.
  • Kalau punya penghasilan sendiri yang cukup, tak perlu pusing dengan imbalan jasa berupa materi yang dijanjikan / diberikan pihak pengundang. Berani menolak undangan yang memberi persyaratan tertentu meski berani memberi imbalan yang besar. Bukannya menolak rezeki, karena tidak ada rezeki yang bisa ditolak manusia. Karena niatnya berdakwah semata-mata mencari keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia.

# 4. TAK PERLU MENJADI BEBAN
  • Ada juga kecenderungan pendakwah yang berpikir bahwa dirinya toh sudah memikirkan umat, jadi umat juga harus balas memikirkan dirinya. Amplop berisi uang itu menjadi haknya karena dia telah memikirkan dan membantu permasalahan umat, lewat ceramahnya. Umat harusnya beruntung masih ada orang yang bersedia berdakwah seperti dirinya.
  • Sadarkah kalau sebenarnya itu membuat dirinya menjadi beban umat? Rasulullah SAW bersabda, bahwa kalau ada seseorang yang keluar dari rumahnya untuk bekerja guna membiayai anaknya yang masih kecil, maka ia telah bekerja fi sabilillah. Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu fi sabilillah. Tapi apabila ia bekerja untuk pamer atau untuk bermegah-megahan maka itu fi sabilisyaithan alias mengikuti jalan syaitan.
  • Bekerja untuk mencari nafkah, derajatnya sama dengan fi sabilillah. Tapi kalau menjadikan aktivitas dakwah demi mengejar materi dan membebankannya kepada umat itu tidak benar.

# 5. MAMPU MELIHAT PERMASALAHAN UMAT SECARA LEBIH BAIK.
  • Permasalahan umat sangat beragam, sehingga pendakwah perlu menginventarisir duduk persoalan yang dihadapi masyarakat berdasarkan prioritas. Ibaratnya kita berada di kapal yang tenggelam, menyelamatkan penumpang kemudian mencari sumber kebocoran dan menanganinya itu lebih prioritas dibanding membereskan meja kursi yang berantakan karena kapal hendak karam atau sibuk menyelamatkan diri sendiri dan harta benda milik pribadi tanpa peduli penumpang lainnya lagi meregang nyawa berusaha bertahan hidup.
  • Ada yang berpikir bahwa berdakwah dan mencari nafkah sama-sama perintah Allah dan rasul serta sama-sama pengabdian kepada Allah, maka apa salahnya dakwah dijadikan lahan penghidupan, sumber nafkah dan rezeki? Jika demikian maka pendakwah fokus pada pihak pengundang. Materi yang disampaikannya pun sudah tak imbang lagi, karena berdasarkan pesanan, berdasarkan keinginan pengundang. Kalau pihak pengundang tidak memuaskan, bakal kecewa dan ogah datang lagi. Permasalahan umat bukan masalahnya, itu urusan pemerintah, dia toh juga punya masalah dan kebutuhan yang harus dipenuhi sendiri.
  • Belum lagi bagi mereka yang terlalaikan hidupnya dari tujuan utama untuk berdakwah tapi lebih banyak disibukkan dengan kegiatan non dakwah. Sibuk dengan bisnis, ikut bermain di kancah politik, sibuk dalam kegiatan sosial kelompok / golongan tertentu. Mereka berlindung dalam dalih bahwa ini juga bentuk dakwah yang lain. Benarkah? Banyak yang akhirnya melupakan aktivitas dakwah karena waktunya habis mengurusi hal lainnya.
  • Rasulullah SAW pernah memboikot 3 orang ahli Badar ketika mereka dengan sengaja tidak ikut perang / jihad. Secara sosial mereka dikucilkan, salamnya tidak dijawab, keluarganya dipisahkan, sampai beberapa waktu bumi terasa jadi sempit bagi mereka. Mereka dikucilkan bukan karena tidak membayar zakat, bukan pula karena meninggalkan ibadah, tapi karena meninggalkan apa yang menjadi prioritas yang sangat mendesak kala itu. 

KESIMPULAN.

  • Menjadi pendakwah itu mulia. Anda menempatkan dakwah sejajar dengan mencari nafkah? Sesungguhnya kedua hal itu sangat berbeda dan tak bisa disamakan. Jadilah pendakwah yang terhormat serta dihormati umat. Letakkan kewibawaan anda sebagai abdi Allah yang menyampaikan risalahnya semata-mata karena Allah. 
  • Dakwah adalah kewajiban dan mencari nafkah juga keharusan. Jalan tengahnya, sukseskan keduanya, agar kita menjadi manusia yang paripurna. Mandiri secara ekonomi dan menyampaikan dakwah yang independen, tak tercemari hal-hal lainnya.
  • Wallahu alam.

DISCLAIMER :
  • Tulisan ini tidak ditujukan pada kelompok orang atau pribadi tertentu, tapi hanya pendapat pribadi saja. 

Kalo Rezeki Sudah Dijamin Kenapa Masih Ada yang Miskin, Kekurangan dan Kelaparan?


Al Quran memotivasi kita

  • Ayat di atas Al Isra ayat 12 memotivasi kita bahwa Allah menjamin rezeki setiap manusia, berikut sarana dan prasarananya. Kita hanya perlu hati-hati menikmati setiap detik rahasia Allah SWT yang diberikan kepada kita. Allah SWT secara tegas memberikan jaminan rezeki kepada setiap mahlukNya. Namun pada saat yang sama Allah juga menetapkan bahwa rezeki tersebut harus dijemput dengan usaha. Untuk mempermudah mencari rezeki, Allah SWT memberikan fasilitas, sarana, perlengkapan kepada setiap mahluk untuk dioptimalkan. Selain itu Allah juga memberi ruang dan peluang sehingga manusia mau dan mampu menjemput takdir rezekinya.

Mengapa masih ada yang miskin, kekurangan dan kelaparan?

  • Allah SWT secara tegas memberikan jaminan rezeki pada hamba-hambaNya. Ini sangat jelas diuraikan dalam firmanNya pada Surah Huud ayat 6 di bawah ini.
  • Ayat di atas mengemukakan bahwa rezeki kita sudah ditanggung Allah dan sudah tertulis dalam sebuah kitab (Lauh mahfudz). Lauh Mahfudz ini adalah kitab tempat Allah menuliskan semua skenario / catatan kejadian di alam semesta . Kitab ini dieritakan dalam Al Quran sebanyak 13 kali.
  • Jika Allah menanggung rezeki kita kenapa masih ada yang miskin, kekurangan dan kelaparan? Apa mereka ini luput dari pandangan Allah. Maha Suci Allah dari sifat seperti itu.
  • Untuk mendapatkan penjelasan, perhatikan paragraf berikut ini :

1) Allah memberi rezeki siapa saja yag dikehendakiNya.
  • Jika si A kaya, maka penyebab kekayaannya bukan karena usahanya, tapi karena Allah berkenan menghendaki dia kaya. Begitu pun si B miskin, bukan karena dia usahanya kurang keras tapi takdir Allah yang menghendakinya miskin. Yang jelas rezeki bagi si kaya dan si miskin diberi Allah secara adil. Allah itu adil, banyak hal di balik takdir miskin dan kaya yang diberi pada seseorang yang kita tak tahu. Yang jelas kaya bukan tanda mulia dan miskin bukan tanda hina.
  • Baca firmanNya di Surah Al Imran ayat 27 di bawah ini, betapa Allah berkuasa memberi rezeki siapa yang dikehendakiNya tanpa hisab (batas).


2) Allah sebaik-baik pemberi rezeki.
  • Allah memberikan rezeki yang pas bagi setiap orang. Si A di beri kekayaan dan rezeki yang banyak karena Allah Maha Tahu bahwa si A bisa memanfaatkan kekayaannya untuk menggapai ridha Ilahi, membantu dan memberdayakan sesamanya serta memberi kesempatan seluas-luasnya baginya bersedekah dan menebar kebaikan dengan hartanya.
  • Sementara si B Allah Maha Tahu kalau diberi kekayaan dan rezeki yang banyak, dia bisa celaka, bisa lupa diri dan jadi sombong, dimana kekayaannya bukanlah mendekatkan pada Ilahi tapi amlah menjauhkannya. Itu sebabnya Allah memberinya rezeki sedikit karena rezeki yang sedikit itulah yang pas baginya, yang membuatnya selalu bersyukur.


3) Allah berkuasa menahan rezeki seseorang
  • Jika Allah ingin menahan rezekimu, siapa yang dapat mencegahnya? Allah sudah mengemukakan itu dengan jelas dalam firmanNya .
  • Jadi bagi yang merasa miskin, kekurangan dan kelaparan, waspadalah mungkin Allah menahan rezekimu? Kalau mau tahu alasan mengapa Allah menahan rezeki seseorang baca artikel ini Mengapa Allah menahan rezeki kita?

4) Allah melebihkan yang lain.
  • Hidup itu harus seimbang. Ada yang gemuk ada juga yang kurus, ada yang cantik ada juga yang jelek, ada yang kaya sudah pasti ada yang miskin. Mengapa Allah menakdirkan seseorang miskin? Agar si miskin bisa belajar arti kesabaran, bisa mensyukuri nikmat yang sedikit dan memberi kesempatan kepada yang kaya untuk bersedekah. Kalau semua kaya, lalu siapa yang harus menerima sedekah?

5) Allah menghukum mereka.
  • Adalah tabiat manusia yang ingkar dan kurang bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah padanya. Mereka mengingkari nikmat-nikmat Allah sehingga Allah menjatuhkan hukuman berupa kelaparan dan ketakutan pada mereka.


6. Allah menyempitkan dan meluaskan rezeki siapa yag dikehendakiNya.
  • Allah berkuasa penuh untuk memberi kelapangan rezeki pada seseorang dan juga mampu untuk menyempitkan rezeki hambaNya. Seseorang yang diberi kelapangan rezeki karena orang tersebut memantaskan diri untuk diberi rezeki. Sementara yang lainnya malah bergelimang dosa dan maksiat sehingga rezekinya jadi sempit karena perbuatan tangannya sendiri. Ada 10 dosa besar yang bisa menghalangi masuknya rezeki.
  • Tapi jika ada yang rajin maksiat tapi rezekinya bagus, hati-hati mungkin itu istidraj. Artinya Allah membiarkan dia dalam kesesatan dan menangguhkan hukumannya di akhirat nanti. Hukuman yang jauh lebih berat dan tak ada waktu lagi untuk bertaubat.

7. Karena minta.
  • Kok bisa ada orang yang minta miskin, kekurangan dan kelaparan? Bukankah semua orang ingin kaya dan banyak rezeki? Betul, tapi ada orang yang keinginan kaya dan banyak rezeki hanya sebatas keinginan dan angan-angan semu belaka, tidak dibarengi dengan usaha. 
  • Orang malas apa dia minta miskin atau tidak? Semua orang keluar rumah, bekerja keras demi menjemput rezeki Allah yang halal, eh si malas cuma enak-enakan tidur sambil bermimpi jadi orang kaya. Manusia malas ini tidak bersedia mengoptimalkan segenap potensi yang Allah SWT telah karuniakan padanya. Otaknya gak dipake, tangan dan anggota tubuhnya yang sempurna dibiarkan nganggur, bagaimana mau kaya?
  • Orang bodoh apa dia minta miskin atau tidak? Semua orang keluar, menunut ilmu, belajar keterampilan tertentu agar punya skill yang bisa dipake untuk bekerja mencari rezeki. Manusia bodoh yang tidak mencari ilmu untuk memecahkan masalah hidupnya.
  • Selain bodoh dan malas ada pula manusia yang sombong. Mereka ini tidak pernah meminta kepada Allah, tidak pernah berdoa dan ogah mendekati Sang Pemberi Rezeki. Padahal manusia bisa diguyur rezeki dengan doa. Berdoa saja belum tentu nasib kita langsung berubah, apalagi kalau tidak berdoa? Mereka ini pasrah dengan keadaannya, masa bodoh dengan kondisinya dan malah protes pada orang-orang yang dianggapnya jadi penyebab kemiskinan dan kekurangannya. Mereka ini manusia yang tercela. Sudah miskin sombong lagi. 
  • Manusia perusak. Ada lagi kategori manusia yang memang minta miskin yaitu mereka yang hobinya membuat kerusakan di muka bumi. Dia sok gagah dengan kekuatannya. Dengan pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya di merusak gunung, hutan, membom laut, dan mengeruk kekayaan alam yang terkandung dalam bumi tanpa batas. Lalu Allah mendatangkan bencana sebagai peringatan agar manusia sadar bahwa dia tidak ada apa-apanya dibanding kekuasaan Sang pencipta. Hutan dirusak, banjir datang memporak porandakan kebun, sawah, ladang, meluluh lantakkan peternakan sehingga sumber makanan menjadi langka, air sulit didapat, dan tempat tinggal jadi rata dengan tanah. Siapa yang minta? Kita sendiri bukan?
  • Wallahu alam

Mengapa Rezeki WAJIB Dicari?

Rezeki sudah dijamin Allah.

  • Meskipun rezeki tiap mahluk yang ada di bumi sudah dijamin Allah SWT, tapi rezeki gak datang gitu aja, tapi harus dijemput dengan cara yang ma'ruf. Hewan aja yang gak punya akal harus usaha biar dapat rezeki. Burung misalnya, harus terbang kesana kemari, hinggap dari pohon yang satu ke pohon lainnya hanya buat nyari biji-bijian atau serangga. Ular menyusup di semak-semak dan lumpur buat nyaplok mangsa. Semua mahluk yang Allah ciptakan kudu usaha dan harus bekerja buat ngejemput kepastian rezekinya. 
rwzwki wajib dicari

Manusia punya akal tapi banyak ngeluh

  • Burung sama ular aja usaha buat ngedapetin rezekinya, masa' manusia yang punya akal kalah? Manusia itu beda dengan mahluk lainnya karena dia dikasi akal pikiran. Dengan akal itu harusnya manusia lebih mudah ngejemput dan mencari rezeki. Rezekinya juga beraneka mulai dari sandang, pangan, papan sampe hal-hal yang sifatnya hiburan.
  • Tapi anehnya kalo kita nanya temen ato kerabat ato siapa aja yang kita jumpai kebanyakan ngeluh soal rezekinya. Coba deh nanya 10 orang aja di pasar, 9 diantaranya pasti bakalan ngeluh, " akhir-akhir ini kondisi sulit, karena semua serba mahal, apa-apa naik, tapi gaji gak."
  • Dari zaman ke zaman nada mengeluh terkait dengan rezeki kurang lebih sama. Tanya deh sama pekerja, pasti ngeluh karena gajinya kurang, sedang beban kerjanya makin banyak. Dia ngiri sama pedagang yang keliatannya leha-leha sementara uang mengalir masuk kantong. Sementara yang pedagang juga ngeluh katanya usaha sekarang lagi seret, susah buat dapet untung, yang ada malah rugi melulu. Enakan jadi pekerja, gak susah-susah mikirin modal, mikirin aset, mikirin gaji pegawai, tinggal kerja aja tiap bulan terima gaji. Kalo jadi pedagang udah duit keluar banyak belum tentu dapet imbalan yang setimpal, bisa-bisa malah dililit utang karena rugi terus.

Kok masih betah tinggal di dunia?

  • Anehnya, meski nyari rezeki itu susah, kehidupan terasa susah kok ya masih betah tinggal di dunia? Kalo nyari rezeki itu berat, tapi kenapa tiap orang takut mati? Bukannya nyari rezeki itu hanya di dunia? Belom ada uztad yang ngomong kalo harga jengkol di surga lima kali lebih mahal daripada harga jengkol di dunia. Ato harga pete di neraka lebih murah karena gosong terpanggang api neraka.
  • Soalnya aktivitas ekonomi di akhirat gak ada. Jadi harusnya orang mestinya seneng hidup di dunia, bisa kerja, bisa dapet gaji, bisa ngejar rezeki, bisa nikmatin hidup. Kalo di akhirat kan udah tinggal pertanggung jawaban dan rasa was-was menunggu pengadilan Allah.

Manusia salah menghitung rezeki?

  • Jodoh, maut, keberuntungan, kecelakaan, hanya Allah yang tentuin. Bahkan trilyunan daun yang ada di muka bumi ini udah ditentuin waktu, tempat dan cara jatuhnya. Begitu juga dengan tetesan air hujan yang jatuh ke bumi, gak satu tetes pun yang salah mendarat. 
  • Lalu kenapa manusia salah menghitung rezeki? Rezeki terasa susah, seret, selalu kurang? Padahal rezeki tiap orang itu udah ditentuin dari Allah dengan sangat akurat. Tau kan arti akurat? Akurat itu ukuran yang gak bakal salah, gak bakal kurang, gak bakal lebih apalagi minus tapi pas....!!! Rezeki gak mungkin ketuker, gak mungkin nyasar dan gak mungkin terhalang. Semua ada waktunya dan besarannya masing-masing. 

Rezeki adalah apa yang dibutuhin manusia.

  • Pengertian rezeki bisa dibaca lagi di Makna rezeki atau di artikel ini hakikatnya rezeki itu apa? Tapi intinya rezeki itu semua hal yang dibutuhin manusia. Coba tanyain orang yang tenggelam, dia butuh apa? Dia butuh udara kan? Coba tanya orang yang kedinginan, dia butuh apa? Dia butuh hangatnya matahari, nyala api ato selimut tebel.
  • Jadi gak usahlah mempersempit pengertian rezeki sebagai besarnya penghasilan atau jumlah uang yang disimpan di bank. Orang kaya raya dengan duit milyaran belum tentu rezekinya banyak. Mau bukti?
  • Ada pengusaha restoran yang sukses tapi punya penyakit menahun yang bikin dia harus diet dan gak bisa makan masakan restorannya yang terkenal enak itu. Dia hanya boleh makan jus dan air saja demi kesehatannya. Sementara di belakang restoran hidup sekeluarga tunawisma yang tiap hari makan makanan sisa buangan restoran sampe kenyang. Hidupnya terasa bahagia karena tiap hari bisa makan enak, meski gak punya duit. Kalo begini kira-kira siapa yang rezekinya lebih banyak?

Kalo rezeki udah dijamin ngapain repot kerja?

  • Kalo rezeki udah dijamin kenapa kita diwajibkan berusaha alias kerja buat dapetin rezeki Allah? Jawabannya karena rezeki itu MISTERI. Kita gak pernah tau rezeki itu kapan dapatnya, di mana dan dalam bentuk apa. Karenanya KESUNGGUHAN kita dalam berusaha lah yang penting, BUKAN pada HASIL yang diperoleh.
  • Coba mikir kalo rezeki yang kita peroleh berdasarkan hasil usaha kita, harusnya MAKIN BESAR USAHA MAKIN BESAR REZEKI dong! Atau sebaliknya MAKIN MINIM USAHA MAKIN KECIL HASIL REZEKINYA. Nyatanya gak gitu kan? Terkadang kita udah usaha mati-matian tapi usaha itu malah gak memberi hasil. Kadang juga usahanya minim kok hasilnya bagus?
  • Mikir ini juga, kalo rezeki yang diperoleh manusia adalah semata hasil dari usahanya, kok keuntungan tiap pedagang di pasar gak sama? Padahal barang yang dijualnya sama, kualitas sama, dari suplier yang sama, dijual dengan cara yang sama pula. Ada yang posisi tokonya strategis, ada yang agak ke belakang. Tapi gak jadi jaminan kalo yang posisinya bagus lebih laku ketimbang yang dipojok belakang kan?
  • Lalu kalo semuanya udah ditentuin apa gunanya strategi bisnis, sistem kerja, analisa investasi, proyeksi cashflow, competitive advance dan semua formula bisnis yang njelimet? Semuanya itu adalah upaya buat nyempurnain ikhtiar.
  • Di alam ini ada sunnatullah yang berlaku umum buat ngatur semua kehidupan secara tetap. Misalnya kalo petani nanam jagung, disiram, dipupuk dan dipelihara dengan baik bakalan tumbuh jagung gak mungkin semangka kan? Tapi apa petaninya menikmati hasilnya? Belum tentu! Karena itu misteri Ilahi. Gak sedikit petani yang susah payah nanam, nebar benih, memelihara dengan rajin, eh begitu dekat panen, malah meninggal. Itu artinya apa yang diusahain belum tentu jadi rezeki.

Rezeki wajib dicari

  • Jadi rezeki itu wajib dicari bukan karena dia ilang tapi emang karena rezeki itu misteri Allah. Kita gak tau rezeki kita adanya di mana, berapa jumlahnya, datangnya lewat apa, sama siapa dan bagaimana caranya. Karena itu kudu usaha. 
  • Kenapa mesti takut memulai usaha / ikhtiar? Padahal usaha ato ikhtiar itu kewajiban, sedangkan hasilnya bukan urusan manusia lagi. Hasil dari setiap usaha itu hak prerogatif Allah. Yang terpenting adalah kita ngejalanin prosesnya bukan hasilnya. Masa' kalah ama burung yang semangat berpagi-pagi mengepakkan sayap buat ngejemput rezeki Allah di pepohonan? Gak perlu target-targetan lah... berusaha aja yang terbaik buat dapat ridha Allah SWT, titik! Kalo Allah sudah ridha mah, urusan rezeki kita kecil...
  • Kalo kita udah ikhtiar, prinsip produksi dan semua perangkat yag digunain itu alat bantu buat nyempurnain ikhtiar kita. Semakin sempurna ikhtiar kita, semakin sungguh-sungguh kita ngelaksanainnya, maka kita semakin berharap Allah meridhai usaha kita. Kalo nanti hasilnya gak sesuai dengan usaha yang kita keluarin, gak sesuai harapan, jangan putus asa. Itulah takdir yang emang sudah ditentuin dari awal. Kita ridha dan menerima takdir itu dengan lapang dada dan husnudzan pada Allah, kalo itulah yang terbaik buat kita saat ini. Jangan lupa ada pahala buat para pencari rezeki juga lho. Jadi selamat bekerja mencari rezeki Allah yang halal dan berkah.
  • Wallahu alam

3 Hal Terdahsyat Penarik Rezeki

Hal apa yang harus dilakukan untuk menarik rezeki?

1) Iman sepenuh hati.
  • Mungkin anda sudah sering mendengar kata iman atau perintah dari buku agama atau ceramah agama yang anda baca/dengar, agar jadi orang yang beriman. Tapi apa sebenarnya iman itu? Inti dari iman adalah kalimat LAA ILAAHA ILLALLAH. Tidak ada Tuhan selain Allah. Bukankah itu syahadat yang setiap hari yang kita ucapkan saat tasyahud dalam shalat? Karena keseringan mengucapkannya jadi biasa dan tak berkesan di kepala. Tapi pahamkah apa esensinya?
ibadah

  • Esensi dari kalimat tauhid itu adalah pengakuan hati, hanya ada keikhlasan dan ketulusan karena Allah dari setiap perbuatan kita serta hanya ada satu keyakinan dan ketergantungan yaitu kepada Allah.
  • Apa betul iman yang kokoh bisa menarik rezeki? Tentu saja, baca firman Allah berikut ini, " Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan berkah kepada mereka dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S.Al A'raf (7) : 96).
  • Allah siap melimpahkan berkah dari langit dan bumi hanya untuk kita hambanya yang beriman. Tapi apa yang kita lakukan selama ini? Benarkah kita telah menuhankan Allah atau menuhankan yang lain? Apakah semua amal ibadah kita hanya untuk Allah atau hanya demi sanjungan, pujian dan kekaguman manusia? Lalu mengapa rezeki kita seret? Mungkinkah iman kita masih dipertanyakan? Laa ilaaha illallah hanya ucapan biasa di bibir kita tanpa memiliki akar dalam hati dan pikiran. Bagaimanapun, iman yang hanya ada di bibir tidak akan memberikan spirit dan vitalitas bagi kehidupan.
  • Ada yang bilang iman itu keluar masuk. Kadang hari ini imannya bagus besok imannya menguap entah kemana. Karena itulah fitrah manusia yang lemah. Agar iman tak mudah menguap jadikanlah setiap kegiatan kita bernilai ibadah. Jika ingin berbuat maksiat ingatlah selalu bahwa Allah melihat, malaikat mencatat dan ajal itu pasti datangnya. Apakah mau meninggal saat melakukan maksiat? Naudzubillah..
  • Jadi kembalikanlah keyakinan anda hanya pada Allah sebelum anda terseret semakin jauh pada kecintaan akan dunia yang fana ini.

2) Taqwa secara total
  • Kalau iman itu pengakuan hati maka taqwa adalah penyerahan hati secara total pada Allah. Penyerahan hati itu terkait dengan prinsip hidup untuk selalu berpegang teguh pada Allah, keyakinan bahwa Allah selalu bersama kita dan cukuplah Allah bagi kita (hasbunallahi wani'mal waqil). 
  • Kalau kita mengakui mencintaiNya, maka perwujudan cinta itu adalah penyerahan diri sepenuhnya padaNya. Taqwa sudah menjadi prinsip hidup yang tak terkalahkan. Saat ketakwaan seseorang menancap kuat di dalam dadanya maka perlindungan Allah akan selalu bersamanya. Adakah rezeki yang lebih besar dari pertolongan Allah yang selalu hadir dalam diri kita? Perhatikan lagi firman Allah di surah Al A'raf ayat 69 di atas, orang yang beriman dan bertakwa akan dilimpahi keberkahan dari langit dan bumi.
  • Bagaimana kita bisa menyerahkan hati, pikiran dan perasaan hanya pada Allah? Tanamkan kecintaan padaNya. Seperti halnya kalau anda mencintai seseorang pasti apapun ingin anda lakukan untuknya. Bahkan berkorban nyawapun anda rela. Dekati Allah, lihat ciptaanNya, renungkan, syukuri semua pemberianNya, bersabar saat dicobaNya, baca firmanNya, pahami maknanya, ikuti apa yang diperintahNya dan jauhi apa yang dilarangNya. 
  • Memang melakukannya tak semudah saya menulis di artikel ini, tapi itulah jihad, perjuangan kita melawan diri sendiri. Perjuangan kita bertarung dengan musuh yang nyata, setan yang dilaknat. Perjuangan yang harus kita lakukan terus menerus sampai maut menjelang.
  • Mengapa saya sebut perjuangan? Karena kita harus mengorbankan "kesenangan-kesenangan" kita. Tadinya suka dengar musik rock yang menghentak dan goyang-goyang sendiri, sekarang harus lebih banyak dengerin ayat-ayat Allah. Tadinya suka pake rok mini biar dibilang seksi, sekarang harus pakai baju tertutup dan hijab. Tadinya suka ngegosip sekarang harus banyak diam, zikir dan istighfar! Perubahan ke arah yang lebih baik itu butuh perjuangan, karena kebiasaan yag tak dirubah bisa jadi karakter. Dan kalau sudah jadi karakter lebih susah merubahnya.


3) Rukuk dan sujud.
  • Sebagaimana kita tahu posisi rukuk dan sujud hanya kita lakukan saat shalat. Dua posisi inilah yang membuat kita berada dalam posisi terendah. Dimana kita memposisikan diri sebagai hamba yang menyembah Allah, Tuhannya. Pada posisi ini kita hanya diwajibkan membaca kalimat pujian untukNya. Baca lagi tulisan banyak sujud banyak rezeki.
  • Shalat adalah satu-satunya media komunikasi antara hamba dan Tuhannya. Lewat shalat seorang hamba melantunkan puji-pujian untuk Allah berharap keridhaanNya. Posisi yang membuatnya merasa lemah dan Allah kuat. Posisi di mana dia merasa butuh Allah.
  • Apakah Allah berkenan mengabulkan doa mereka yang merelakan waktu tidurnya di sepertiga malam hanya untuk sujud memohon perkenan Allah akan doa-doanya? Tentu saja. Bukankah Allah Maha Mengabulkan doa (baca : cara agar doa menjadi senjata efektif penarik rezeki).
  • Jadikan diri kita orang yang butuh shalat. Bukan karena sekedar menggugurkan kewajiban, takut dosa, takut neraka. Tapi karena lewat shalat lah sarana kita berjumpa dengan Sang Kekasih, Allah SWT. Jangan hanya rindu pada kekasih yang berwujud manusia yang hatinya bisa dibolak-balik. Tapi rindulah pada Allah yang Kecintaannya pada hambaNya kekal dan tak mungkin berubah.
  • Wallahu alam..

Inilah Orang Kaya yang Tercela

Menjadi kaya itu cita-cita yang waras.

  • Siapa sih yang gak kepengen kaya? Semua orang pengen punya harta tumpah ruah, uang melimpah, rumah megah, deretan mobil mewah dan perhiasan gemerlap yang wah.. Karena semua itu dianggap membahagiakan dan bikin senang. Itu cita-cita orang waras yang anehnya kadang bikin orang jadi gak waras. Menghalalkan segala cara untuk mencapainya, tapi kalo gagal jadi gila dan senewen. Akhirnya bahagia dalam kegilaannya, bermimpi jadi kaya.
  • Tapi banyak juga yang tak sanggup menerima kenyataan kalau dirinya kaya sehingga terlena, dibuat mabuk sama harta dunia sampai akhirnya lupa beramal sampai ajal menjemput. Mereka inilah yang paling celaka. Punya harta banyak tapi harta itu justru jadi api yang membakarnya di neraka. (baca : ciri-ciri orang banyak harta yang celaka).
kaya

Bisakah jadi kaya tapi tercela?

  • Tentu saja ! Perhatikan orang kaya yang tercela dalam surah Al Humazah ayat 1 -4 di bawah ini :
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu akan mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah 
  • Perilaku orang kaya yang tercela dijelaskan dalam ayat ini yang nantinya akan diganjar al wail (kecelakaan).Ada 2 perilaku ekonomi yang dicela dalam ayat ini yaitu :

1. Mengumpulkan harta dan menghitungnya.
  • Yang paling pertama dicela dalam ayat ini adalah kegiatan fisik si orang kaya yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Kegiatan ini dilakukan secara terus menerus. Ketika seseorang berusaha dengan berbagai cara agar mendapatkan kekayaan maka ia akan menghitung semua biaya yang dikeluarkannya dan berapa hasil yang akan dieprolehnya. Begitu seterusnya.
  • Hasrat untuk menumpuk dan mneghitung kekayaan tak kunjung selesai. Selama hayat masih dikandung badan maka selama itu pula dia akan terus berusaha mencari kekayaan, menumpuk dan menghitung-hitung jumlahnya apakah terus bertambah atau malah berkurang?
  • Saat selesai usaha yang satunya akan diikuti usaha lainnya yang jauh lebih keras. Tak ada kata berhenti sampai kematian memutusnya. 
  • Allah mencela orang seperti ini. Yang hidupnya hanya dihabiskan untuk ngurusin harta melulu, ngurusin bisnis yang terus berkembang dan sibuk dengan pekerjaan yang menyita waktu. Tak ada waktu untuk keluarga tercinta apalagi untuk Allah? (baca : kapan rezeki jadi masalah?).
  • Sebenarnya sih bukan hanya orang kaya saja yang sibuk mengejar harta, tapi orang miskin yang kepengen kaya juga melakukan hal yang sama. Allah mencela orang yang hidupnya hanya didominasi oleh harta, hingga lupa melakukan persiapan untuk kepulangannya di kampung abadi di akhirat nanti.

2. Mengira hartanya akan mengekalkannya.
  • Selain aktivitas fisik mengumpul dan menghitung harta satu lagi aktivitas orang kaya yang tercela adalah aktivitas mental yang megira hartanya itu akan mengekalkannya. Perilaku mengumpul dan menghitung-hitung harta didorong oleh kondisi mental di mana kekayaan adalah tujuan hidupnya, penentu kebahagiaannya. Dia masih merasa belum sukses dan belum berhasil kalau belum menumpuk harta dalam jumlah tertentu. Dia masih meras menderita dan belum mengecap kebahagiaan kalo belum kaya.
  • Kekayaan adalah sumber kebahagiaannya, harta menjadikannya sejahtera, meningkatkan harkat dan martabatnya, meninggikan status kemuliaannya di depan orang banyak. Kalo perlu harta itu dicari sampe tujuh turunan gak bakalan habis. Sehingga orang dan keturunannya akan selalu mengenang nama besar dan perjuangannya. Orang akan mengelu-elukan dinastinya sebagai orang terpandang dan kaya raya.
  • Ketika syahwat kebendaan ini mendominasi keyakinan maka dunia menjadi segalanya. Gak perduli lagi halal haramnya. Semua dihantam dan penghalangnya akan dibinasakan, yang penting tujuannya mendapat kekayaan tercapai. Tak perduli orang lain menderita dan sengsara karenanya.
  • Padahal 3 hal yang menyertainya di dunia, dua diantaranya akan ditinggalkannya, yaitu harta yang dikejarnya sampai mati dan keluarga yang dibanggakannya yang jadi sumber kekuatannya mencari harta, akan berpisah saat maut datang menjemput. Hanya satu yang setia menemaninya yaitu amal perbuatannya. Kalau selama ini dia terlalu sibuk mengejar harta dan mengurus keluarga terpandangnya sampai melupakan ibadah kepada penciptanya. Maka celakalah dia..!! Banyak harta tapi miskin amal. Siapkah menghadap Sang Pencipta?
  • Wallahu alam..

Bagaimana Islam Memandang Rezeki dan Harta?

Apakah harta itu?

  • Kita sering beranggapan bahwa rezeki itu sama dengan harta benda. Rezeki yang diberi Allah berupa uang yang kemudian dibelikan harta benda. Padahal rezeki itu luas, bukan hanya berupa uang dan harta benda. Kembali ke soal harta, sebagai salah satu jenis rezeki dari Allah. Islam berbicara banyak tentang harta. Surah-surah Al Quran baik yang turun di Mekkah maupun di Madinah banyak menyinggung tentang harta dan pengelolaannya. 

  • nikmat
  • Dalam Al Quran disebutkan bahwa harta yang ada pada manusia sejatinya adalah :

1) Anugerah dari Allah yang harus disyukuri

A. Surah Luqman ayat 20.
  • Perhatikan firman Allah di Surah Luqman ayat 20 berikut ini :
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang di bumi untuk (kepentigan)mu dan menyempurnakan nikmatNya untukmu lahir dan bathin. Tapi diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.
  • Dari ayat tersebut di atas jelas sekali Allah mengingatkan hamba-hambanya tentang nikmat-nikmatnya, termasuk dalam hal ini rezeki yang diberi padanya, mengajak mereka untuk bersyukur. Memperingatkan mereka untuk melihat semua nikmat itu dan tidak melupakan nikmat-nikmat tersebut.

B. Surah Ibrahim ayat 32-34
  • Nikmat-nikmat apa saja yang telah diberi Allah pada hambanya dijelaskan pada Surah Ibrahim ayat 32 - 34
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki bagi kalian; dan Dia telah menundukkan bahtera bagi kalian supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya; dan Dia telah menundukkan bagi kalian (pula) sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagi kalian malam dan siang. Dan Dia telah memberikan pada kalian (keperluan kalian) dari segala apa yang kalian mohonkan kepadaNya. Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
  • Rezeki dari Allah di ayat di atas adalah buah-buahan yang bermacam-macam bentuk, warna dan rasanya. Kita bisa memilih macam-macam jenisnya. Allah menundukkan laut dan bahtera agar kita bisa berlayar dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Allah menundukkan sungai-sungai sehingga bisa digunakan untuk trasportasi, diminum, mencuci dan bahkan untuk mengairi sawah ladang. Matahari dan bulan beredar di orbitnya dan mempergilirkan waktu siang dan malam bagi manusia. Siang untuk bekerja mencari nafkah dan malam untuk istirahat.

C. Surah Ar Rad ayat 26.
  • Bagaimana Allah berperan dalam rezeki manusia?

D. Surah Al Ankabut ayat 62.
  • Peranan Allah dalam hal rezeki semakin dipertegas pada surah ini juga.
Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan Dia pula yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

2) Amanah yang akan dipertanggung jawabkan.
  • Jangan senang dulu jika diberi rezeki berupa harta yang banyak, karena semua itu nantinya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah, sebagaimana dalam firmanNya:
Wahai manusia, sungguh janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah (Q.S.Fathir :5).
  • Jelas sekali dalam ayat ini Allah mengingatkan untuk hati-hati dengan kehidupan dunia yang memperdayakan. Jangan sampai rezeki yang banyak membuat kita terlena seolah kita akan hidup terus. Padahal rezeki itu nanti akan ditanya, sumbernya darimana dan kemana dibelanjakan.
  • Ayat ini mengajak kita untuk mewaspadai godaan setan. hati-hati ada 17 pintu masuk setan dalam tubuh manusia.

3). Ujian yang harus diantisipasi.
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar. (Q.S. Al Anfal : 28).
  • Allah sekali lagi mengingatkan agar harta rezeki apalagi anak jangan dijadikan impian, jangan dijadikan tujuan hidup karena pada dasarnya harta dan anak-anak itu adalah cobaan yang harus dihadapi manusia. 
  • Banyak sedikitnya harta itu cobaan. Banyak sedikitnya anak pun cobaan bagi orangtuanya.

4) Hiasan hidup.
  • Harta dan rezeki itu hanya hiasan hidup yang kadang-kadang menyebabkan arogansi dan kesombongan. Allah sudah mengingatkan manusia tentang ini :
A. Surah Al Alaq ayat 6-7
Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup. 
  • Lewat ayat ini Allah ingin mengabarkan betapa manusia itu adalah mahluk yang menyukai kesenangan, jahat, angkuh, melampaui batas apabila dia melihat dirinya dalam kondisi berkecukupan dan banyak hartanya. Sebagaimana hadits Rasulullah yang mengatakan bahwa, " bahwa ada orang ya ng selalu rakus dan tak pernah merasa kenyang, yaitu penuntut ilmu dan pemburu dunia. Tapi nasib mereka tak sama, pemburu ilmu, semakin bertambah ilmunya semakin bijak dan diridhai Allah yang Maha Rahman. Sementara para pemburu dunia itu makin rakus dan makin tenggelam dalam kesesatannya.

B. Surah As Syura ayat 27
Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hambaNya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki, sungguh Dia Maha Teliti akan keadaan hamba-hambaNya.
  • Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia tak akan memberi harta yang berlebihan atau rezeki yang berlimpah-limpah kepada hambaNya jika itu akan membuat mereka jadi angkuh, sombong dan takabur. 
  • Allah akan memberi mereka rezeki sekedarnya saja yang akan mendatangkan kebaikan bagi mereka. Jika Dia menakdirkan seorang hamba miskin karena lewat kemiskinan dan kurang harta tersebut, karena kebahagiaan dan kebaikannya terletak pada kemiskinan itu.
  • Ada hadits Rasulullah yang menguatkan hal tersebut, " Dan sebagian hambaKu ada yang kaya, yang tidak dapat menjadikannya baik kecuali kekayaan, kalau Aku memfakirkannya niscaya Aku merusak agamanya. Dan sebagian hambaKu ada orang yang tidak menjadi baik kecuali lewat kemiskinan, kalau Aku membuatnya kaya maka itu akan merusak agamanya (H.R. Anas ra).
  • Lewat ayat di atas harusnya kita bersyukur dengan jumlah rezeki yang diberiNya. Banyak sedikitnya rezeki kita adalah ukuran yang telah ditetapkanNya dan itu untuk kebaikan kita. Dan tidak udah sibuk membandingkan rezeki kita dengan orang lain. Bisa saja orang lain kaya karena itu yang terbaik buatnya. Rezeki kita sederhana saja karena rezeki sederhanalah yang pantas dan membahagiakan kita.


5) Bekal ibadah pada Allah SWT
  • Jangan salah kalau rezeki yang banyak itu adalah alat, sesuatu yang bisa digunakan untuk menjadi bekal meraih keridhaan Allah SWT. Lewat amal ibadah, sedekah, membangun tempat ibadah, memberdayakan orang miskin dan anak yatim piatu serta membantu penyebaran agama Allah.
A. Surah At Taubah ayat 41
Berangkatlah kalian baik dalam keadaan merasa ringan, maupun merasa berat. Dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik jika kalian mengetahui.
  • Perintah di atas adalah perintah jihad ke medan perang. Agar umat Islam tidak ragu-ragu untuk melawan musuh-musuh Islam. Bukan hanya diri tapi juga harta pun harus direlakan demi membela kepentingan agama. 
  • Saat sekarang ini mungkin perang yang kita hadapi bukanlah memakai pedang, meriam ataupun bom tapi perang melawan diri sendiri. Perang melawan ketamakan dan kerakusan diri sendiri. 
  • Jihad dengan harta dan rezeki pun sudah berbeda. Silakan baca tulisan bagaimana berjihad dengan rezeki yang diperoleh?
B. Surah At Taubah ayat 111
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dlama Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
  • Allah mengumpakan orang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya seperti orang yang berjual beli dengan Allah. Mereka menjual jiwanya dan hartanya pada Allah dan Allah menggantinya dengan kedudukan yang mulia, yaitu surgaNya.
Masihkah anda bingung dengan harta yang ada dalam pengawasan anda? Masihkah anda merasa sedih dengan sedikitnya rezeki yang Allah beri? Masihkaha anda suka iri dengan rezeki orang lain? masihkah anda suka membanding-bandingkan rezeki anda dengan orang lain? Masihkah anda bersuka cita dengan rezeki yang banyak dan jadi lupa daratan?

Harta itu ujian, cobaan, dan hanya alat untuk mencapai keridhaan Allah. Nantinya harta itu akan ditanya. Sudah siapkah kita dengan jawabannya?
Wallahu alam...


Followers

Pages

About Me

My photo

Saya  apa adanya, senang baca buku, mikir, nulis dan berbagi sedikit ilmu yang saya miliki. Harapan saya sih  ilmu yang sedikit itu bermanfaat, setidaknya untuk saya sendiri. Saya juga menulis blog pribadi lancarrezeki.blogspot.com, berbagidanjadikaya.blogspot.com catatanngocol.blogspot.com, hanya-love.blogspot.com dan belajarlewatquotes.blogspot.com