Kebiasaan Merokok Membuat Rezeki Tak Berkah?

Indonesia adalah surga bagi perokok

  • Bagi anda yang sudah menjadikan rokok sebagai kawan akrab merasa tak bisa hidup tanpa rokok. Kalau perlu bisa putus makan nasi tapi jangan sampai putus rokok.
  • Indonesia adalah salah satu surga bagi perokok. Negara ini adalah penghasil tembakau, harga rokok cukup murah, bisa merokok di mana saja tanpa ada regulasi yang tegas dan para perokok bisa melenggang bebas, merokok tanpa beban di depan orang lain, bahkan di depan anak-anak di bawah umur. Mereka tak peduli dengan nasib perokok pasif yang turut menikmati asap rokoknya tanpa perlu merokok, dan kelak memanen penyakit karena kebiasaan buruk yang tidak dilakukannya
  • Jumlah perokok aktif di Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan, membuat kita negara dengan tingkat polusi asap rokok yang tinggi. Rokok bebas di jual dan bisa dibeli di mana saja.


Apa hubungan rokok dan rezeki?

  • Kita membeli rokok pakai apa? Pakai uang yang kita peroleh sebagai hasil jerih payah kita bekerja. Jadi uang itu adalah bagian dari rezeki yang diberi Allah pada kita. 
  • Kita sepakat bahwa rezeki adalah segala sesuatu pemberian Allah pada kita. Dan sebagai hamba yang taat dan banyak bersyukur kita mengembalikan rezeki yang kita peroleh dengan memberi manfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat. Rezeki yang kita peroleh sebaiknya berberkah, bertambah-tambah, bermanfaat dan semakin mendekatkan kita pada Ilahi. Untuk jelasnya baca kembali artikel bagaimanakah bentuk rezeki yang berkah itu?
  • Tubuh yang penuh dengan asap rokok yang kita hisap sehari-hari kita pakai ibadah, mengharap ridha dan kemurahan rezeki dari Allah.

Kebiasaan merokok membuat rezeki tak berkah?


(1) Rokok bukan makanan yang baik
  • Mengapa bisa begitu? Bukankah rokok sama saja dengan konsumsi makanan kita yang lain? Saya kira saya tidak perlu menguraikan lagi bahaya rokok bagi kesehatan. Para perokok saya kira jauh lebih paham dari saya yang tidak merokok, bahkan ada peringatan di bungkusnya segala " PERHATIAN : ROKOK MEMBUNUHMU !"
  • Allah mengingatkan pada kita untuk makan makanan yang halal lagi baik dari rezekinya yang baik. "Hai orang-orang yang beriman makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang kami berikan pada kalian dan bersyukurlah pada Allah jika benar-benar kepadaNya kamu kembali" (Q.S. Al Baqarah 172). Di ayat ini sangat jelas, " dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah direzekikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah dan kamu beriman kepadaNya." (Q.S. Al Maidah: 88) Jadi bukan hanya faktor halal haramnya tapi apakah makanan itu baik bagi tubuh. Jika makanan itu bisa membahayakan apalagi bisa membunuh pastilah tidak termasuk kategori yang baik. (baca : mau hidup berkah? Makanlah makanan yang baik-baik).
  • Jika kita tidak makan makanan yang baik-baik artinya kita menyalahi atau membangkang perintah Allah. Karena dengan sengaja kita memasukkan sesuatu yang berbahaya ke dalam tubuh yang diciptakanNya. Masihkah pantas kita memohon diberi rezeki dari Allah jika kita membangkang perintahNya dan menzalimi diri?
(2) Rokok mendatangkan bahaya
  • Rokok membahayakan diri dan orang di sekitarnya. Rokok bisa menyebabkan penyakit kanker paru-paru, TBC, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin serta membahayakan perokok pasif yang ada di sekitarnya.
  • Apa kata Allah tentang hal ini? " Dan janganlah kalian menjatuhkan diri sendiri dalam kebinasaan (Q.S. Al Baqarah : 195). Di ayat lain malah lebih tegas, " Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian." (Q.S. An Nisa : 59). Sekarang tanyalah diri anda wahai perokok, apakah kalian sedang tidak menjatuhkan diri dalam kebinasaan? Apakah kalian tidak sedang membunuh diri kalian pelan-pelan? Rokok itu membunuh lebih banyak orang di dunia dibanding kematian karena serangan hiu.
  • Jika kita dengan sengaja mendatangkan kebinasaan bagi diri dan orang lain apakah pantas dilancarkan rezekinya? 
(3) Rokok itu pemborosan
  • Rokok itu pemborosan dan penghambur-hamburan harta. Kebiasaan ini bisa mengurangi keberkahan rezeki (baca : 30 kebiasaan yang dapat mengurangi keberkahan rezeki).
  • Allah SWT mengingatkan kita dengan firmannya, " Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan harta dengan boros, sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara setan." (Q.S. Al Isra : 26-27). Rasulullah menguatkan hal itu dengan sabdanya, "Dan Allah membenci bila kalian membuang-buang harta."
  • Orang yang melakukan pemborosan itu disamakan dengan mereka yang mubazir, membuang-buang uang untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya. (baca : mau mudah rezeki? Jauhi sifat mubazir


Kesimpulan

  • MUI sudah mengharamkan rokok, demikian pula dengan ulama ahlusunnah waljamaah di Arab Saudi pun telah mengharamkannya. Karena mereka menilai bahwa rokok lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.
  • Hidup berkah adalah bukan hidup berlimpah harta tapi hidup berlimpah manfaat. Jika hidup hanya menzalimi diri dan orang lain itu artinya kufur nikmat dan hidupnya tidak berkah.
  • Sekarang tinggal anda yang memutuskan apakah hidup sebagai perokok yang membelanjakan rezeki dari Allah yang Pemurah untuk barang yang merusak tubuh, membolongi dompet dan membuat orang lain ikut sakit itu hidup yang bermanfaat?
  • Semua kembali pada anda.. wallahu alam

Nabi Sulaiman, Rezekinya Banyak tapi Bersyukur, Mengapa Kita Tidak?

Siapa itu Nabi Sulaiman?

  • Bagi anda yang suka baca cerita nabi-nabi, mungkin sudah tahu kalau Nabi Sulaiman as adalah raja terkaya di zamannya. Putra Nabi Daud ini memiliki kekayaan yang melimpah terdiri dari emas permata, logam mulia yang mahal bahkan istananya bertaburan intan permata yang berkilauan.
  • Nabi Sulaiman as adalah keturunan Nabi Ibrahim as. memiliki keistimewaan yang banyak seperti bisa pergi kemana-mana dengan mengendarai angin, dapat memerintah jin, mengetahui bahasa binatang, memiliki tentara yang kuat terdiri dari manusia, jin dan burung-burung. Beliau juga terkenal sebagai raja yang adil, bijaksana serta cerdas dan berilmu tinggi.
  • Kata Allah, "Dan dihimpunkan kepada Sulaiman, tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib (dalam barisan)" (Q.S. An Naml : 17). Juga dilanjutkan dengan ayat ini, " Kemudian Kami tundukkan kepada angin yang dapat berhembus dengan baik menurut kemana saja yang dikehendakinya, dan Kami tundukkan pula kepadanya syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah kami, maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendirimu) dengan tiada pertanggungan jawab. Dan sesungguhnya dia punya kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik" (Q.S.Shad : 36 : 40).
  • Kemampuan Nabi Sulaiman yang luar biasa. Bukan hanya bisa dengan mudah menguasai manusia dan binatang, tapi juga dari golongan jin, termasuk syaitan-syaitan yang suka membangkang. Syaitan adalah mahluk yang celaka dari golongan jin yang bahkan jin yang saleh tidak mampu menundukkannya, tapi Nabi Sulaiman dikaruniai kekuatan untuk mengalahkan syaitan laknat yang tidak mau tunduk pada Allah dan padanya dengan merantai / membelenggunya.
  • Syaitan-syaitan tukang bangunan diperintahnya untuk membangun istana yang super megah, sementara syaitan penyelam untuk mengambil mutiara dan yakut di lautan yang dalam.
bersyukur


Menolak hadiah

  • Saat hendak mengislamkan Ratu Bulqis dan rakyatnya, Nabi Sulaiman berkirim surat meminta kesediaan Sang Ratu dan rakyatnya untuk menyembah Allah dan berhenti menyembah matahari. Karena Allah lah yang telah memberikan rezeki berupa kerajaan yang besar padanya. Harusnya Sang Ratu bersyukur dan mulai menyembah Allah serta jangan menyembah selainNya. 
  • Lalu Sang Ratu mengirimkan utusan sambil membawa begitu banyak hadiah bagi Nabi Sulaiman agar beliau luluh hatinya dan tidak memaksakannya untuk meninggalkan kebiasaan nenek moyangnya menyembah matahari.
  • Tapi setibanya sang utusan di kerajaan Nabi Sulaiman, dijumpainya kerajaan yang megah, jauh lebih indah dan mewah dibanding kepunyaan Ratu Bulqis. Sambil terkagum-kagum sang utusan menyerahkan hadiah yang dikirim oleh ratunya pada Nabi Sulaiman, berupa intan permata dan logam mulia yang banyak.
  • Tapi Nabi Sulaiman menolak pemberian itu dan mengatakan bahwa karunia dan rezeki yang diberikan Allah padanya sudah cukup baginya dan tidak memerlukan tambahan dari manusia. Luar biasa. Kalau di zaman sekarang ini adakah orang yang suka menolak hadiah? Pasti dianggap bahwa jangan sampai menolak rezeki, meskipun jelas-jelas ada maksud di balik pemberian itu. Padahal tidak ada yang namanya menolak rezeki. Karena rezeki kita sudah dijamin Allah. Tak ada yang bisa menahannya jika memang untuk kita (bahkan kitapun tak sanggup menolaknya) dan meskipun kita kejar sampai mati tetap tak akan singgah di tangan jika rezeki itu memang bukan ditujukan buat kita.

Punya banyak kelebihan dan rezeki tapi tetap bersyukur

  • "Dan sesungguhnya kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan keduanya mengucapkan "segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman". Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan berkata, " Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung, dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata" (Q.S. An Naml : 15 - 16).
  • Apa diwariskan oleh Nabi Daud pada anaknya Nabi Sulaiman, bukanlah kekayaan tapi kekuatan militer yang kuat, dimana saat itu Bani Israil yang biasanya lemah dan ketakutan menjadi salah satu tentara yang disegani di zamannya. Tapi kekayaan yang dimilikinya yang sangat luar biasa dan konon belum ada yang mampu menyainginya hingga saat ini diperoleh karena doanya pada Allah.
  • Inilah doa minta kerajaan (karunia yang besar) yang diucapkan Nabi Sulaiman as " Ia berkata, Ya Tuhanku, ampunilah aku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorangpun sesudahku" (Q.S. Shad : 35). Dan Allah mengabulkan doanya.
  • Mengapa Nabi Sulaiman meminta kerajaan dan harta kekayaan yang banyak? Apakah beliau gila harta dan gila kekuasaan? Tentu tidak. Tidak satupun ambisi para nabi yang ditujukan untuk kepentingannya, tapi ditujukan untuk memudahkan mengajak orang lain menuju cahaya Islam.
  • Dengan semua kekayaan, harta, kekuasaan yang diberikan Allah padanya, tidak menjadikannya sombong malah beliau adalah hamba yang paling banyak bersyukur dan berzikir pada Allah. Hal itu ditegaskanNYa sendiri langsung lewat firmanNya, " (Sulaiman) sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada TuhanNya." (Q.S.Shad:30).
  • Nabi Sulaiman saja yang dikaruniai begitu banyak rezeki masih mau bersyukur pada Allah. Aapalagi kita ini yang rezekinya hanya seberapa persen dari kekayaan Nabi Sulaiman tapi sudah menyombongkan diri. Waspadalah dengan kesombongan, itu sifat setan yang melemparkannya keluar dari surga. Baca ciri-ciri orang yang mensyukuri rezeki di sini.
  • Wallahu alam

Kasian, Ujian Kok Dijadikan Impian??

Muslim itu wajib kaya

  • Kalau kita berbicara tentang rezeki pasti langsung pikirannya rezeki itu adalah harta. Padahal rezeki bukan hanya berupa materi. Untuk menyegarkan ingatan silakan baca hakikat rezeki itu apa
  • Tapi mengapa muslim wajib kaya? Karena dengan kekayaan lebih mudah baginya memberi manfaat bagi diri, sesama, dan umat Islam secara keseluruhan. Ahli ibadah dan da'i yang kaya jauh lebih bisa berperan dibanding mereka yang miskin. (baca : bagaimana membangun taman kekayaan)
  • Siapa yang bisa membangun tempat ibadah, sekolah Islam yang bermutu, rumah sakit untuk melayani orang tidak mampu, rumah tahfidz, rumah yatim bahkan pesantren-pesantren berkelas hanya mereka yang punya duit alias kaya bukan?  Jadi jangan remehkan mereka yang kaya dan serta merta menuduh mereka cinta dunia. Tapi respeklah pada mereka yang menggunakan kekayaannya bukan untuk pamer tapi untuk memberi manfaat. Baca artikel ini Hidup itu tak boleh sederhana, untuk lebih memahaminya.
  • Artikel kali ini lebih fokus untuk memikirkan kembali hakikat kehidupan kita termasuk bagaimana menyikapi dunia, termasuk rezeki di dalamya.
ujian itu bukan tujuan


Bagaimana menyikapi rezeki dunia?

  • Saya tidak mengajak anda untuk menuhankan kekayaan. Tapi mengajak anda untuk berpikir kembali bagaimana menyikapi rezeki dunia.
  • Orang sering sekali menyangka apa yang dimiliki atau dialami oleh orang lain jauh lebih enak dari apa yang dirasakannya. Bukankah rumput tetangga jauh lebih hijau dibanding rumput di halaman rumah kita?
  • Orang yang tak pernah naik pesawat pasti menganggap yang namanya naik pesawat itu enak. Bagi yang sering bepergian dengan pesawat malah lelah, bosen atau didera ketakutan soal kecelakaan pesawat.
  • Orang yang tidak pernah menginap di hotel, pikir bahwa tinggal di hotel itu enak, serba dilayani dan fasilitasnya lengkap. Sementara yang sering bepergian, nginap dari satu hotel ke hotel lainnya malah capek, lelah jiwa dan raga dan inginnya di rumah saja berkumpul bersama keluarga dan makan makanan rumahan.
  • Orang yang tidak pernah jadi pejabat, eksekutif, posisi yang bagus mengira mereka itu duduk di kursi empuk, berkubang uang dan banyak anak buah. Bagi yang duduk di kursi empuk itu malah merasa tidak bisa menikmati hidup karena terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang terkait dengan tanggung jawab posisinya.
  • Orang miskin mengira bahagia itu ada pada harta dan uang yang banyak. Sementara banyak orang kaya yang hidupnya tidak bahagia dan ingin mati saja.

Miskin dan kaya itu sama saja

  • Di hadapan Allah, mereka yang miskin dan mereka yang berlimpah harta sama saja. Yang membedakan adalah amalnya. Orang miskin bisa semulia orang kaya jika amalannya bagus. Orang kaya pun belum tentu hina jika ternyata kekayaannya bermanfaat dan semakin mendekatkannya pada Allah. Kapan rezeki jadi masalah? Saat rezeki menjauhkan kita dari Allah.
  • Harta dan rezeki diberi Allah pada kita selain untuk memenuhi kebutuhan agar bisa bertahan hidup juga untuk diuji. Harta, uang bahkan anak-anak pun ujian dari Allah. Darimana perolehannya? Bagaimana memanfaatkannya? 
  • Jadi sayang sekali kalau orang menghabiskan hidupnya hanya untuk mencari harta, menumpuk duit di bank kemudian menghambur-hamburkannya untuk kesenangan dunia. Sujud siang malam menghadap Allah di saat susah, mohon agar diberi rezeki yang banyak. Begitu diberi jadi keenakan, malah lupa Allah. Manusia itu kebanyakan tidak bersyukur. Dia lupa tujuan penciptaan manusia.
  • Rezeki yang kita miliki sebenarnya hanya yang 3 ini. Dan yang boleh dibandingkan dengan orang lain hanya yang 3 ini juga. Bukan banyaknya harta yang menentukan kualitas kita sebagai manusia tapi banyaknya amalan kita yang diterima Allah, banyaknya manfaat yang kita beri pada sesama manusia dan banyaknya orang yang merasakan keberadaan kita di tengah-tengah mereka.
  • Hidup hanya untuk mencari duit, bikin usaha semata-mata untuk mencari untung yang banyak, bikin akun di medsos agar bisa dapat duit, sampe ngetwit dan buat status ujung-ujungnya untuk mendapatkan duit juga. Hidupnya hanya berputar pada duit. Makan, tidur, ke toilet itu hanya selingan. Bahkan kalau bisa aktivitas itu menghasilkan duit itu lebih bagus. Bangun tidur bukannya ku terus mandi tidak lupa menggosok gigi kayak lagu anak-anak. Tapi bangun tidur langsung mikirin duit. Mandi dan gosok gigi sih iya tapi sambil mikirin duit.

Impian diukur pake duit

  • Kasian sekali orang yang impiannya diukur pake duit. Bagaimana bisa punya rumah lebih gede, tanah lebih banyak, aset yang terus nambah, rekening yang semakin gendut, seolah lupa kalo mati itu semua akan ditinggalkan dan akan ditanya pertanggung jawabannya nanti di akhirat.
  • Kasian sekali orang yang mimpi dan tujuan hidupnya seputar duit. Ingin punya 1 juta, 1 Milyar, 1 trilyun... padahal DUIT ITU UJIAN..
  • Ujian kok dijadikan impian? Ujian kok dijadikan tujuan hidup? Gimana sih??

Jadi tidak boleh kaya nih?

  • Bukannya tidak boleh kaya, baca dulu apa beda uang dan kekayaan, biar paham. Kaya itu bagus, tapi jangan dijadikan tujuan, jadikan selingan saja, hasil samping, hasil ikutan bukan impian apalagi tujuan hidup. 
  • Rezeki itu tak susah, gampang dicari dan mudah didapat. Cukup dekati Sang Pemberi Rezeki. Orang baik rezekinya baik dan lancar. Yang mendekatkan diri pada Allah, insya Allah rezekinya mengikuti. Yang didekati kan Zat yang Maha Kaya.
  • Bahagia itu tidak jauh. Bukan lewat kepemilikan harta benda, hidup berlimpah rezeki materi, tapi bahagia itu ada pada kedekatan pada Allah, Zat yang memiliki dunia. 
  • Ada seorang saleh yang ditanya oleh seorang penguasa, apa yang diinginkan dalam dunia ini pasti akan diberinya. Apa jawab si Orang Saleh? "Sama Allah yang punya dunia saja saya tidak pernah meminta dunia, apalagi sama tuan yang tak memiliki dunia?"
Ini nasehat buat diri saya sendiri yang masih tamak pada harta dunia. Juga mudah-mudahan bermanfaat bagi anda semua yang penyakitnya sama dengan saya. Wallahu alam.. 

Yakin Kalo Rezeki Itu Sebentar Lagi !

Kisah kakek nenek yang bau

  • Kisah ini saya baca di sebuah media sosial dan ingin saya bagikan bagi pembaca blog saya di sini. Renungan buat kita semua.
  • Dikisahkan seorang pemuda menaiki kereta yang membawanya menuju tujuannya. Begitu naik segera pandangannya tertuju pada sepasang suami isteri berusia lanjut. Pakaiannya sederhana, kumal dan bau. Tak ada orang yang tahan berdekatan dengannya. Seorang ibu muda dengan segera pindah duduk saat mencium aroma tak sedap dari tubuh sepasang suami isteri tersebut.
  • Sang pemuda terus memandangi kakek nenek kumal itu sambil menebak-nebak kalau pekerjaannya pasti mengemis. Dilihat dari tongkrongannya pasti mereka menuju lokasi tempatnya biasa meminta-minta menadahkan tangan pada orang lain. (baca : pada pengemis yang mengais rezeki haruskah selalu memberi?)


Mereka tak ingin dikasihani

  • Tidak berapa lama naiklah seorang anak muda bergaya selenge'an, memakai earphone. Bukannya menjauh dari kedua kakek nenek bau itu dia amlah mendekat dan mulai membuka percakapan dengannya. Tidak berapa lama anak muda itu mengeluarkan uang 100 ribu beberapa lembar. (meskipun pemuda itu tak bisa menghitung dengan pasti berapa jumlahnya, yang jelas uang 100 ribuannya beberapa lembar).
  • Kata anak muda itu lagi, " ibu, bapak ini saya ada sedikit rezeki, mohon diterima, mudah-mudahan bisa memenuhi kebutuhan bapak ibu beberapa hari ke depan." Yang membuat pemuda itu tertegun anak muda ini demikian murah hati dan dermawannya. Tapi yang membuatnya lebih kagum lagi adalah ucapan bapak tua tersebut. "Nak, terima kasih atas kebaikan hatimu. Agama saya melarang saya menjadi seorang pengemis yang menadahkan tangan, menunggu bantuan uang dari orang kaya. Saya yakin Tuhan saya Maha Kaya, sangat Kaya. Saya tahu niat ananda baik untuk membantu kami. Saya pun yakin jika Allah, Tuhan kami yang mengirimmu pada kami. Tapi, maaf saya tidak bisa menerima itu nak. Saya tak ingin dalam perjuangan hidup kami mencari rezeki terdapat kisah bahwa kami menerima uang dari orang yang merasa kasihan dengan kondisi kami. Saya yakin, nak sebentar lagi Allah akan memberikan rezeki bagi kami dengan cara yang lebih baik hari ini. Iya, saya yakin itu.
  • Kemudian mereka turun di stasiun tujuan dan melangkah pergi membuat pemuda dan anak muda dermawan itu tertegun dengan perasaan kagum.
  • Masih ada orang yang menolak untuk dikasihani. Kemiskinan tidak membuatnya membuatnya kehilangan harga diri.


Apa yang dipelajari dari kisah ini?

(1) Jangan berprasangka.
  • Jangan menilai buku dari sampulnya. Jangan menilai seseorang dari tampilan luarnya. Boleh saja dia kelihatan mentereng dan kaya tapi ternyata dia seorang koruptor atau pelaku maksiat. Bisa saja dia terlihat miskin, kumal dan bau tapi belum tentu mereka sudi menghinakan diri dengan meminta-minta pada mereka yang kaya.
(2) Harga diri itu penting
  • Boleh miskin dan tak berpunya, tapi tidak boleh miskin harga diri. Bukan pada manusia tempatnya hamba meminta tapi kepada Allah yang Maha Kaya. Tanamkan keyakinan bahwa Allah akan memberi yang lebih baik. Karena Dia punya cukup banyak untuk dibagikan, sementara hambaNya sekaya apapun dia tetap terbatas (baca : kunci pengabulan doa minta rezeki). Manusia akan dianggap rendah jika dia menghamba pada manusia lain. Manusia akan ditinggikan jika menolak menghambakan diri pada sesama tapi justru menghambakan diri pada Sang Pencipta.
(3) Yakin bahwa rezeki itu dekat

(4) Adakah istilah menolak rezeki?
  • Kalau melihat kasus di atas mungkin anda akan menilai betapa bodohnya kakek nenek yang menolak rezeki yang diberikan padanya. Bukankah rezeki tidak boleh ditolak? Hakikatnya rezeki itu apa bisa di baca di sini. Jika memang rezeki itu untuk kita tak mungkin jika tak masuk kantong kita. Begitupun juga sebaliknya, meskipun rezeki itu sudah tampak di depan mata, kalau bukan rezeki kita ada saja jalannya untuk pergi dan menuju ke pemiliknya. (baca : rezeki tak mungkin nyasar, dia tahu keberadaanmu). Jadi tidak ada istilah menolak rezeki. Kalau memang rezeki tak akan ada orang yang bisa menolaknya. Allah sudah menentukan dan hanya Allah juga yang bisa merubah ketentuanNya, bukan manusia.
Wallahu alam..

Hidup Ini Adalah Menunggu, Mengapa Menyibukkan Diri Dengan Rezeki?

Hidup dengan kesibukan mencari rezeki

  • Setiap hari kita keluar pergi pagi pulang sore, bersibuk-sibuk dikejar waktu, takut telat dan memaki-maki kemacetan jalan raya yang kita rasa menghambat perjalanan kita. Tujuannya satu mencari nafkah, mencari rezeki Allah yang terserak di bumi. Apa ada yang salah dengan itu?
  • Tentu tidak. Sesuai dengan perintah Allah, " Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung" (Q.S. Jumu'ah : 10).
  • Yang terjadi kita mengamalkan banyak-banyak perintah Allah untuk bertebaran di muka bumi mencari karunianya tapi menyedikitkan waktu shalat apalagi banyak mengingat Allah. (baca : zikir ini bisa mempermudah rezeki)
  • Sadarkah kita, kalau waktu kita habis bekerja, dari jam 8 sampai jam 4 atau 5 sore bagi yang karyawan, belum termasuk kalau lembur dan membawa pekerjaan pulang ke rumah. Bagi pengusaha / bisnisman waktunya selain habis di kantor juga banyak di luar berurusan dengan klien / konsumen, belum habis di rapat-rapat pemasaran. Bagi yang buruh, tukang becak atau penjual jamu pun habis waktunya menjajakan dagangan / jasanya. Waktu kita habis untuk mencari nafkah..mencari rezekiNya

Hidup ini hakikatnya menunggu...

(1) MENUNGGU AJAL
  • Adakah orang yang tahu kapan ajalnya datang? Tak ada bukan? Lalu kita yang hidup di dunia ini adalah camat alias calon mati. Kita membawa-bawa badan yang sehat kemana-mana untuk melakukan aktivitas sampai tiba saat ajal datang menjemput.
  • Apa aktivitas yang harus kita lakukan? Ibadah dan mendekatkan diri pada Allah. Seperti yang diperintah ayat di atas. Kalimat pertama yang diperintahkan Allah adalah tunaikanlah shalat. Dirikanlah shalat. Jagalah shalat anda, bukan hanya jangan bolong tapi perbaiki. Tingkatkan kualitasnya. Bukankah shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Itu kalau shalat itu dikerjakan dengan baik. Kita lihat begitu banyak orang yang shalat tapi tetap melakukan kemungkaran. Itu karena yang shalat hanya badannya. Tapi hatinya tidak. Dia hanya sekedar menggugurkan kewajiban, bukan memanfaatkan momen untuk mendekatkan diri kepada Allah. (baca : apa itu 5S pembuka pintu rezeki?)
  • Kalau kita menunggu artinya harus bersiap sebelum yang ditunggu datang. Persiapannya lagi-lagi dengan ibadah dan amal saleh. Coba hitung waktu yang 24 jam yang diberi pada semua orang. Berapa persen diantara waktu-waktu yang kita gunakan untuk ibadah? Kerja sudah kita lakukan selama 9 jam. Tidur kita dianjurkan minimal 8 jam. Makan, minum dan aktivitas toilet (membersihkan diri) anggaplah 3 jam sehari. Itu sudah 20 jam kita habiskan untuk kepentingan dunia. Belum lagi kalau kita perlu waktu rekreasi, hiburan. Lalu kapan waktu kita ibadah?
  • Jika esok Malaikat Maut datang mengetuk pintu kita, tak ada waktu untuk menolak dan minta diberi tangguh. Karena semuanya sudah terlambat. Lalu mengapa kita masih menyibukkan diri mencari rezeki dan harta yang nantinya akan ditinggal juga saat kematian datang.

(2) MENUNGGU WAKTU SHALAT
  • Shalat yang wajib adalah shalat fardhu 5 kali sehari semalam yang telah ditentukan waktunya. Mau menambah shalt-shalat sunat itu lebih bagus. Diantara waktu-waktu shalat itu apa yang kita kerjakan? Mencari rezeki lagi? Betul-betul hidup kita dihabiskan dengan mencari dunia dan tetek bengeknya.
  • Waktu untuk shalat paling lama 5 menit itupun sering kita kebut mengerjakannya. Sering telat, sholat di akhr waktu. Belum lagi terhitung yang tak kita kerjakan entah karena sengaja atau terlupa. Belum lagi kita sering lupa berzikir. Habis shalat langsung bangkit meninggalkan sajadah karena dunia telah memanggil.
  • Kita betul-betul sedikit ibadahnya, sedikit zikirnya tapi Allah terus mencurahkan rezekinya pada kita. Tanpa pernah sedikitpun lupa menyediakan oksigen untuk kita bernafas. Ogah memberikan hujan untuk kebutuhan air kita. Lupa membangunkan matahari untuk menyinari dan memberi kehangatan bumi. Betapa manusia itu tak bersyukur.

Lalu apakah tidak boleh sibuk mengejar rezeki?

  • Tentu saja boleh bekerja dan mencari aktivitas, tapi buatlah aktivitas itu bernilai ibadah. Jadilah pegawai, bisnisman, buruh, pekerja, pelayan yang jujur, memiliki integritas, tidak korupsi, kolusi, nepotisme. Ingat selalu bahwa Allah selalu mengawasi dan ada malaikat yang mencatat semua perbuatan kita.
  • Tentu saja boleh, sepanjang bekerja mencari rezeki tidak melalaikan kita dari mengingat Allah. (baca : kapan rezeki menjadi masalah). Jika tiba waktunya shalat, tinggalkan semua aktivitas dan bersegeralah menuju mesjid / mushala atau mengakrabi sajadah anda. Beri waktu diri untuk bermesraan dengan Allah.
  • Boleh, tapi kejarlah rezeki sewajarnya (baca : haruskah rezeki dikejar?) Karena rezeki itu sudah dijamin Allah. Untuk apa menyibukkan diri dengan sesuatu yang sudah dijamin Allah? Bukannya sibuk mempersiapkan diri pada sesuatu yang belum pasti, apakah nantinya masuk surga?
  • Percayalah bahwa ibadah baik maka rezeki akan mengikuti. (baca : banyaklah berserah diri pada Allah, maka rezeki akan mengikuti)
Wallahu alam...

Kiat Menjadi Pengusaha Sukses Penarik Rezeki

Mau banyak rezeki, jadilah pengusaha !




Muslim yang kaya jauh lebih utama





Kiat menjadi pengusaha penarik rezeki

Berikut ini adalah kita pengusaha penarik rezeki yang merupakan pengalaman berbagai pengusaha yang termasuk dalam Komunitas Tangan Di atas (TDA), dan saya kumpulkan dari berbagai sumber.

(1) Harus percaya pada Allah dan meyakini bahwa setiap manusia memiliki rezeki masing-masing.

  • Rezeki sudah ditentukan Allah SWT. Bukan berarti tinggal diam tak mengusahakannya, hanya menunggui rezeki mendatangi kita. Hendaknya pencarian/penjemputan rezeki diupayakan sebagai ikhtiar yang dimaksudkan untuk menunjang ibadah, bukan tujuan utama. Mencari rezeki tujuannya agar kita dapat memenuhi kebutuhan hidup sehingga kuat beribadah padaNya. (baca : betulkah tak perlu kuatir atas rezeki kita?)

(2) Percaya diri bahwa produk yang dijual, baik barang atau jasa berlandaskan amanah
.


  • Produk yang dijual atau jasa yang diberikan bukan asal jual dan asal melayani. Tapi barang yang dijual adalah barang yang berkualitas, memiliki nilai manfaat serta tak berbahaya bagi konsumen. Melakukan pelayanan prima dan mengutamakan kepentingan konsumen, mendahulukannya dan melayani keluhannya dengan baik. Amanah yang diberikan konsumen dianggap sebagai amanah dari Allah yang harus diperlakukan dan dijaga dengan baik.

(3) Banyak bersyukur dan berdoa.

  • Memiliki untung yang banyak adalah keinginan semua pengusaha, tapi yang terpenting adalah mensyukuri berapapun hasil yang diperoleh dari suatu usaha, banyak atau sedikitnya tetap disyukuri. Karena yang terpenting bukan jumlahnya, tapi ungkapan terima kasih kita pada Allah atas pemberianNya. Bahkan dianjurkan untuk mensyukuri mensyukuri rezeki meskipun belum menerimanya. Agar hati senantiasa positif dan bisa menarik rezeki yang banyak.
  • Jangan lantas kita merasa sudah punya usaha dan untungnya terus mengalir membuat kita putus komunikasi dari Allah. Atau malah rezeki dan keuntungan usaha tidak jua kita dapatkan, membuat kita jadi malas dan tidak lagi berdoa padanya. Harusnya kita introspeksi diri mengapa doa minta rezeki sulit dikabulkan? Setelah itu pelajarilah kunci pengabulan doa minta rezeki. Komunikasi dengan Sang Pemberi Untung / Rezeki harus terus dilakukan. Jangan lupa dhuha (baca : mengapa dhuha memperlancar rezeki?), tahajud dan sedekah.

(4) Rajin bersedekah

  • Sedekah adalah penderas rezeki. Jangan pernah takut bila rezeki kita akan berkurang hanya karena disedekahkan. Tak ada orang miskin karena rajin bersedekah. Keuntungan usaha malah bisa berlipat karena sedekah. Bukankah dalam setiap rezeki kita ada hak orang lain? Ada malah warung makan di Jawa yang khusus menggratiskan makanannya setiap hari Jumat untuk orang tak mampu. Warung itu bukannya bangkrut karena menggratiskan jualannya, tapi malah makin laris dan makin untung.

(5) Memuliakan orang tua.

Demikianlah 5 kiat menjadi pengusaha sukses penarik rezeki. Semoga kita bisa mendapat manfaat dari tulisan ini.

Wallahu alam.

Silaturahmi Menambah Rezeki, Benarkah?

Mari Menyambung Tali Silaturahmi

  • " Siapa yang hendak dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (H.R. Bukhari Muslim)
  • Rezeki berlimpah dan berkah adalah dambaan setiap orang. Baik rezeki berupa materi maupun yang non materi kalau bisa banyak dan berkah. Salah satu kunci mendapatkan rezeki itu melalui usaha. (baca : bagaimanakah bentuk rezeki yang berkah itu?)

Silaturahmi menambah rezeki

  • Tapi ketika pertama kali memulai sebuah usaha, orang yang tidak memiliki dasar dan latarbelakang dunia usaha pastinya akan blànk dan bingung. Apa yang harus dilakukan? Apa yang harus disiapkan? Butuh modal berapa? Barang apa yang sedang laris di pasaran? Apa yang harus dijual? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Semua hal di ataa tidak akan dapat dijawab jika hanya duduk diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Yang siperlukan adalah INFORMASI. (baca : bagaimana menjalankan usaha agar terus mendatangkan rezeki?)
  • Di mana kita mendapatkan informasi? Bisa lewat BUKU. Buku adalah cara paling praktis untuk mendapatkan informasi. Tinggal menuju toko buku, cari di rak tema bisnis dan kewirausahaan dan jawaban pun terpecahkan. (baca : 8 karakter pengusaha yang berezeki banyak dan tak pernah rugi)
  • Namun buku sekelas motivator atau pebisnis terhebat sekalipun, jika hanya ditelaah sendiri pun belum bisa menumbuhkan motivasi untuk bergerak. Diperlukan seorang partner untuk berdiskusi atas berbagai macam tips dan trik yang didapat dari buku itu.
  • Bagaimana mendapatkan PARTNER DISKUSI? Masuk komunitas bisnis? Tepat sekali! Rekan berdiskusi adalah praktisi bisnis di bidangnya masing-masing. Mereka akan memberikan masukan dan solusi atas apa yang sedang dialami. Bukan hanya solusi tapi juga mungkin peluang-peluang yang bisa dijadikan modal immateri dalam memulai sebuah usaha.(baca : mengapa umrah melapangkan rezeki?)


Alasan mengapa silaturahmi membawa rezeki?

  • Begitulah kurang lebih konsep silaturahmi itu bekerja. Benar adanya jika silaturahmi itu dikatakan bisa membuka pintu rezeki. Bukan dengan jalan merendahkan diri meminta-minta pada orang lain? Tapi lewat berbagi ilmu dan pengalaman ( dalam hal ini bisnis). Yakinlah bahwa pintu rezeki akan terbuka lewat silaturahmi, lakukan apa yang harus anda kerjakan, selanjutnya biarkan Allah dan semesta bekerja untuk anda. (baca : 55 cara membuka pintu rezeki)
  • Jika memiliki permasalahan dalam bisnis dan hampir mengalami kebangkrutan, maka perbanyak silaturahmi. Lewat pertemuan dengan orang lain bisa saja kita menemukan ide, masukan dan solusi dari suatu permasalahan. (baca : mengapa jadi tuan rumah yang baik itu membawa rezeki?)
  • Silaturahmi adalah shortcut dari permasalahan kehidupan. Memang mengadu pertama kali pada Allah, namun kadang dalam memberikan jawaban atas permasalahan kita, Allah tidak memberikan lewat ilham tapi lewat manusia lain. (baca : 10 cara memantaskan diri agar rezeki lancar)
  • Banyak-banyaklah bersilaturahmi, agar rezeki gampang terbukà dan lancar. Makin banyak teman makin banyak yang mendoakan, makin banyak yang memberi bantuan dan makin banyak ladang berbuat kebaikan. (baca : gaji kecil rezeki besar
  • Wallahu alam.

Fenomena Rezeki; "Kalo Gak Ngambil Gak Bakalan Kebagian"

Rezeki harus dikejar, diburu sampai dapat !

  • Rezeki itu harus dikejar, gimanapun caranya harus dapat. " Kalau ada rezeki lewat segera sikat, kalo tidak, keburu disamber orang dan kita gak kebagian". Pernah mendengar orang yang berprinsip begitu? Atau jangan-jangan malah anda yang punya prinsip begitu? (baca : haruskah rezeki dikejar?)
  • Itu prinsip orang kere. Yang melihat segala sesuatu itu termasuk rezeki, jumlahnya terbatas dan tak bakalan cukup untuk memenuhi kebutuhan semua mahluk Allah di bumi ini. Ini orang yang sangat meremehkan kemampuan Allah menghidupi mahlukNya. Dia lupa bahwa saat berada dalam perut ibunya dia justru tak mampu mengejar rezekinya karena begitu tak berdaya dan lemah, tapi Allah dengan kasihNya mengirimkan makanan lewat ibunya yang disalurkan melalui plasenta dan tali pusat. (baca : betulkah tak perlu kuatir terhadap rezeki kita?)


Allah menjamin rezeki hambaNya

  • Allah mampu memenuhi kebutuhan alam semesta ini, apalagi untuk kebutuhan seorang manusia saja? Tidak ada satu mahluk pun di bumi ini melainkan Allah telah menjamin rezekinya. (baca : kenaikan harga dan kepastian rezeki Allah)
  • Lihat, betapa pemurahnya Allah pada kita. Meskipun kita termasuk bebal dan ibadahnya kurang rezeki toh tetap tercurah kepada kita. Lalu mengapa harus memaksakan diri mencari rezeki dengan menghalalkan segala macam cara, saling sikut, saling bunuh, saling menjatuhkan, belum lagi praktek korupsi, kolusi dan manipulasi merajalela karena takut tidak kebagian. (baca : rezeki salah bahan bakar kesusahan)
  • Padahal alam ini berlimpah rezeki yang melimpah, tidak terbatas jumlahnya dan cukup untuk dibagi pada semua mahluk. Jadi tidak perlu rebutan karena semua bakalan kebagian. Kalaupun semua kebagian bukannya habis malah terus tercurah tanpa diminta. Pernahkah anda megap-megap kekurangan oksigen, kehilangan kehangatan mentari atau rindu kesegaran hujan yang membasahi bumi karena tak pernah turun lagi? Tidak bukan? Semua tetap tercurah meski kita tak memintanya. (baca : apakah hujan menandakan limpahan rezeki?)
  • Bayangkan, pernahkah anda tidak makan dalam sehari? Meski begitu miskinnya sehingga tidak mampu membeli makanan, biasanya tiba-tiba ada yang memberi makanan gratis bukan? Allah punya cara sendiri bagaimana mengirimkan rezeki kita. (baca : jangan ragu berbagi rezeki karena balasan Allah tak menunggu lama)
  • Tanamkan mindset keberlimpahan dalam hidup anda. Yakinlah bahwa anda punya banyak untuk dibagi dan tak pernah takut bakalan kehabisan. (baca : rahasia bagaimana menjadi magnet rezeki)


5 Hukum yang terkait dengan rezeki

# (1) Hukum Nilai

  • Rezeki anda ditentukan oleh seberapa banyak nilai tambah (manfaat) yang anda berikan pada hidup anda, hidup orang lain dan hidup masyarakat pada umumnya. Itu sebabnya orang baik, orang dermawan, murah hati itu rezekinya banyak. Karena dia memberikan banyak nilai tambah ( kemanfaatan ditinya) dalam masyarakat. Ibaratnya ia terus memberi dan rezekinya mengalir kembali masuk ke dalam dirinya sehingga ia tak pernah kekurangan. Rezeki datang baik berupa materi, respek, penghargaan, pengaruh, dan ketentraman dan kemudahan hidup. (baca : mengapa orang baik rezekinya lancar?)
  • Bandingkan dengan orang yang menjadi sampah masyarakat, pelaku kejahatan, penjudi, pemerkosa, pembunuh, pengedar narkoba, koruptor itu mengambil dari masyarakat ( yang bukan haknya). Maka apa yang telah diambilnya dengan paksa akan diambil kembali darinya. Akibatnya ia selalu merasa kekurangan. Akibatnya dia terus mengambil dengan membabi buta. Makin banyak yang dia ambil makin banyak pula dia kehilangan. Rezeki akan diambil dalam bentuk materi, kesehatan, nama yang buruk, keamanannya tidak terjamin serta tidak memperoleh kententraman dalam hidup. (baca : 4 ciri-ciri rezeki yang tidak berkah)

#(2) Hukum kompensasi

  • Rezeki anda ditentukan oleh seberapa banyak orang yang anda layani dan beri manfaat. Bill Gates meskipun dia bukan muslim tapi telah melayani puluhan juta orang  pengguna produknya. Wajar jika pendapatan dan rezekinya juga besar. Belum lagi ditambah dia menjadikan dirinya philantropist yang menggunakan sebagian hartanya bagi kepentingan kemanusiaan.(baca : mengapa orang dermawan rezekinya terus bertambah)
  • Demikian pula sebaliknya jika jumlah orang yang merasakan kejahatan anda besar jumlahnya, semakin banyak yang anda rugikan maka rezeki anda juga bakalan diambil sebanyak mungkin. Jikapun Allah tidak mengambilnya waspadalah dengan istidraj yaitu pembiaran perilaku buruk di dunia untuk mendapatkan akibatnya di akhirat kelak. Naudzubillah (baca : konsekuensi rezeki haram)

    # (3) Hukum pengaruh

    • Rezeki anda ditentukan oleh seberapa besar anda mendahulukan kepentingan orang lain. Ini yang terberat, mampukah anda meleburkan diri untuk kepentingan orang lain. Mampukah kita jadi " pengungkit" untuk membuat orang lain lebih baik, lebih saleh, lebih sukses dari diri kita? Kemampuan ini akan meningkatkan pengaruh anda terhadap orang lain. Makin banyak orang yang dibuatnya berubah ke arah yang lebih baik makin bagus rezekinya. Inilah yang dilakukan para uztaz, kyai, pemuka agama, pemikir dan motivator muslim. (baca : rezeki baik itu bukanlah kaya berlimpah harta tapi..)

    # (4) Hukum autensitas

    • Bisakah anda selalu ada setiap orang lain membutuhkan seperti apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib " kehadiran adalah hadiah terbesar." Hadiah terbesar yang bisa diberikan pada orang lain bukanlah materi tapi kehadiran. Pada saat orang lain membutuhkan kita selalu berada di sisinya. Lihat bagaimana Rasulullah selalu berada untuk umatnya. Bahkan untuk pengemis yahudi yang sangat membencinya pun dia suapi dengan penuh kasih. (baca : apakah anda sudah menjadi rezeki bagi orang lain)

    # (5)Hukum kemampuan untuk menerima

    • Kunci untuk memberi secara efektif adalah mampu menerima apapun dengan terbuka. Kita harus bersedia menerima apapun "bayaran" yang kita terima. Setelah berbuat kebaikan, memberi nilai tambah bagi orang lain, melayani banyak orang dengan ikhlas, mendahulukan kepentingan orang lain, dan selalu ada bagi orang yang membutuhkan, semua itu karena Allah. Kemudian Allah berkenan "membayar" upaya kita dengan rezekinya. Diberi besar alhamdulillah, diberi kecilpun alhamdulillah. Karena bukan rezeki yang ingin dikejar tapi cinta Allah. Kalaupun terikut rezeki di situ maka itu adalah bonus. (baca : mengapa rezeki selalu mudah bagi orang yang ridha)


    Hidup ibarat roller coaster

    • Rezeki dan kehidupan ibarat menjalani roller coaster yang turun naik silih berganti. Pilihannya apakah akan menangis ketakutan saat hempasan angin dan roda roller coaster yang menghujam jatuh ke bawah. Atau menikmati permainan kemana roda roller coaster membawa kita. Jika menurun kita bergembira, jika menanjak kita pun senang. Karena menaikinya cuma sebentar. Pilihannya cuma 2 ketakutan atau menikmatinya. (baca : hidup bagai roller coaster)
    • Hidup ini singkat. Percuma mengejar yang singkat dengan mengorbankan akhirat yang abadi.
    Wallahu alam.

    Hitunglah Rezekimu dan Berhenti Mengeluh !

    Bisakah kamu menghitung rezeki Allah? 

    • Betapa banyaknya nikmat dan rezeki yang telah Allah curahkan untuk kita. Kita bahkan tak sanggup menghitung semua nikmat Allah. Allah sudah tahu itu, " Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitung jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Q.S. An Nahl : 18).
    • Karena begitu banyaknya nikmat yang diberikan, toh kita masih tetap saja mengeluh. Merasa tidak cukup, merasa kurang, merasa tidak diberi secara adil. Tapi keluhan tidak menyelesaikan masalah bukan? Rezeki bakalan mandek kalau kita terlalu banyak mengeluh. Bukankah mengeluh itu berarti kufur? 
    • Kufur nikmat itu tidak menerima ketentuan Allah. Tidak ada kepuasan dalam diri. Padahal rezeki sudah dijamin Allah sesuai dengan kebutuhan kita, tapi kita tetap merasa kurang?



    Allah pasti menguji kita

    • Allah tidak membiarkan kita menikmati semua pemberianNya tanpa diuji. Kata Allah, " Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) berkata telah beriman sedang mereka tidak diuji lagi ?" (Q.S. Al Ankabut : 2).
    • Ingatlah kalau musibah, masalah, kesusahan menimpa kita hanya sesekali. Tapi kenikmatan, rezeki dan karuniaNya terus tercurah tiada henti. Lalu apa yang kita keluhkan? Logikanya kalau rezeki Allah itu banyak dan tidak bisa dihitung harusnya " tak ada waktu untuk mengeluh, tapi memperbanyak syukur, bukan?"
    • Allah sudah tahu dan bilang kalau." Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar dan tidak berterima kasih pada Tuhannya (Q.S. Al Adiyaat : 6). Tafsir Al Hasan rahimahullah tentang ayat ini, "yaitu orang-orang yang menghitung-hitung musibah (yang sedikit) dan melupakan kenikmatan-kenikmatan RabbNya (yang telah banyak diberikan padanya)".


    Allah menguji hamba itu ada tujuannya

    • Jika Allah ingin kebaikan pada hamba maka Dia segerakan hukumannya di dunia dengan diberikan musibah sehingga ia meninggalkan dunia nanti dalam keadaan bersih dari dosa. (baca : mengapa ujian itu rezeki bagi orang beriman?).
    • Semakin kuat keimanan seseorang maka cobaan dan ujiannya juga semakin berat. Yang terberat cobaannya adalah para Nabi dan Rasul.
    • Rasulullah SAW mengingatkan kita, "Sesungguhnya balasan bagi orang yang beriman yang terbesar itu berupa ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridha maka Allah pun akan ridha. Barangsiapa yang tidak suka maka baginya murka Allah" (H.R. Tirmidzi). Ingatlah rezeki selalu menghampiri orang yang ridha.
    • Perumpamaannya jika ingin menjadi dokter, insinyur, arsitek harus memantaskan ilmunya bukan? Harus kuliah di fakultas kedokteran atau fakultas teknik, kemudian belajar yang rajin, melalui praktikum / percobaan yang silih berganti, agar bisa mengasah ilmunya saat praktek nanti. Dan sebelum dilantik dan siap menjalankan ilmunya di masyarakat harus melalui ujian bukan? Lulus ujian akan menentukan nasibnya, apakah dia pantas dan layak diberi gelar dokter, insinyur ataupun arsitek?
    • Masihkah berharap menjadi sarjana (ahli) surga jika yang dipilih adalah Fakultas Ilmu Dunia (berleha-leha dan bersenang-senang di dunia, tapi ogah diuji) dan melalaikan akhirat?
    • Stop Complaining, Keep Fighting ! Berhentilah mengeluh, teruslah berjuang dalam agama Allah. Jangan hanya lapang hati saat menerima rezeki tapi mengeluh saat diberi musibah. Musibah itu juga rezeki, tapi banyak yang tidak tahu.
    Wallahu alam

    Hakikatnya Rezeki Itu Apa?

    Apakah rezeki itu?

    # Menurut orang awam

    • Rezeki menurut pengertian orang awam adalah apa yang dihasilkan dari usaha mereka. Misalnya uang yang didapatkan dari upah, gaji, pembayaran jasa, maupun keuntungan usaha. Atau berupa makanan / barang yang diperoleh setelah bekerja pada seseorang. 

    rezeki
    rezeki itu bukan berupa uang tapi apa-apa yang memberi manfaat dari uang itu


    # Menurut kamus :

    • Rezeki Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) : (1) segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberian oleh Tuhan), berupa makanan sehari-hari, nafkah. (2) Kata kiasan dari penghidupan, pendapatan (uang dan sebagainya yang digunakan untuk memelihara kehidupan), keuntungan, kesempatan mendapatkan makanandan sebagainya.


    # Menurut ahli tafsir

    • Rezeki menurut Prof. Dr. M. Mutawallu As-Sya'rawi (seorang ulama Mesir dan penafsir Al Quran yang diakui), adalah apa yang dapat dimanfaatkan pemiliknya. Jadi meski hartanya banyak kalau yang dibelanjakan dan dimanfaatkannya sedikit, maka itulah rezekinya. Uangnya di bank meski itu atas namanya bukanlah rezekinya karena itu tidak bermanfaat buat dirinya. Bank lah yang memperoleh manfaatnya.


    # Rezeki bukan hanya harta

    • Rezeki bukan hanya harta atau yang bersifat materi tapi juga, ilmu, wawasan, keterampilan, kecerdasan pikiran, kefasihan berbicara, kesehatan dan kebermanfaatan yang diperoleh secara umum. (baca : luasnya rezeki Allah, rezeki tidak melulu berupa uang)
    • Contoh konkritnya balasan Allah dari sedekah uang yang dilakukan oleh seseorang kadang berupa uang, kadang juga diberi dalam bentuk lain seperti terhindar dari penyakit / bahaya, perasaan tenteram dalam jiwa, hidup berkah dan berlimpah manfaat, dan sebagainya. Sedekah adalah juga penderas rezeki.
    • Orang yang banyak harta belum tentu banyak rezekinya. Orang yang sedikit hartanya belum tentu rezekinya kurang.


    # Hakikat rezeki

    • Hakikatnya rezeki itu adalah sesuatu yang kita rasakan manfaatnya atau sudah dipergunakan. Makanan dan minuman yang masih ada dalam kulkas sebelum diolah dan kita makan belum tentu itu rezeki kita. Pakaian baru yang sudah kita beli dan masih tergantung dalam lemari sebelum kita pakai belum tentu menjadi rezeki kita. Bisa saja berat badan kita tiba-tiba naik dan baju baru itu tidak muat dalam badan sehingga harus dihibahkan kepada adik kita misalnya. (baca : hanya tiga rezeki inilah yang sebenarnya kita miliki).
    • Apa saja yang belum kita rasakan manfaatnya meski berada dalam penguasaan kita belum tentu menjadi rezeki kita. Jadi orang yang banyak rezeki adalah mereka yang banyak mendapatkan manfaat dari apa-apa yang diusahakannya. 
    • Manfaat itu menurut kamus adalah : (1) guna dan faedah serta (2) laba dan untung. Jadi sesuatu menjadi rezeki kita jika berguna, berfaedah, memberi laba dan untung untuk mensupport kehidupan kita, kehidupan orang lain dalam koridor yang ditetapkan Allah SWT. 


    # Uang di belanjakan pada barang haram apakah juga rezeki?

    • Uang yang berada dalam dompet, saku atau genggaman kita belum tentu menjadi rezeki kita sebelum dibelanjakan dan memberi manfaat bagi diri. Kalau uang itu digunakan untuk membeli rokok. minuman keras, narkoba, makanan yang diharamkan artinya kita memberi tubuh manfaat berupa kenikmatan saat mengkonsumsinya, tapi mudharat (keburukan yang diakibatkannya bagi tubuh) jauh lebih besar dari manfaatnya. Itu juga namanya rezeki tapi rezeki haram. Rezeki yang diperoleh dari jalan yang salah atau dimanfaatkan pada jalan yang salah dan mudharatnya jauh lebih banyak dibanding manfaatnya. (baca : konsekuensi rezeki haram).
    • Mengapa harus mencari rezeki haram? Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepadaNya, dan tujuan pemberian rezekinya adalah agar rezeki itu bisa dipakai beribadah kepada Allah (baca : rezeki telah dijamin Allah, tak perlu kuatir atas rezeki kita). Jadi rezeki haram tidak dapat dipakai untuk beribadah kepada Allah. Tubuh yang diberi makan makanan haram (baik yang diharamkan seperti babi, tidak disembelih dengan nama Allah, darah, nanah, maupun sumbernya yang haram seperti makanan yang dibeli dari hasil korupsi) tidak dapat dipakai beribadah. Uang yang didapat dari hasil menipu tak ada manfaatnya bila disumbangkan  ke mesjid. 
    • Orang yang mencari rezeki haram adalah orang yang tidak dapat mengendalikan diri untuk diperbudak hawa nafsu. Bukan keberlimpahan harta yang menunjukkan kualitas seseorang di mata Allah tapi keberlimpahan manfaat bagi diri dan orang lain. Para pengusaha night club, mucikari, pedagang narkoba, mereka merasa memberi manfaat karena mempekerjakan banyak orang? Tidak, mereka para pengusaha haram ini semakin menyuburkan praktek-praktek yang dilarang agama dengan menebarkan bisnis haram, merekrut pekerja untuk melaksanakan kegiatan yang haram, memperoleh laba dan keuntungan yang haram, gaji dan upah yang dibayarkannya juga haram. Berusaha itu bukan hanya sekedar memutar uang tetapi ada surga dan neraka di situ. Jika dilakukan dalam koridor agama maka bisa beroleh surga, tapi jika sebaliknya maka nerakalah tujuannya. Naudzubillahi min dzalik. (baca : bagaimana menjalankan usaha agar terus mendatangkan rezeki, atau artikel ini usaha mau untung, koreksi 4 hal ini)


    # Membelanjakan uang di jalan Allah

    • Uang yang kita pegang atau dalam penguasaan kita nanti jadi rezeki jika dibelanjakan untuk kebutuhan kita dan keluarga dan sebagian diberikan dalam bentuk zakat, infaq, sedekah, sumbangan, bantuan atau apapun namanya yang tujuannya membantu orang yang kekurangan. Inilah rezeki yang sebaik-baiknya. Yang bermanfaat bagi dirinya dunia dan akhirat. Dengan catatan sumber perolehannya harus halal. Betapa bahagia orang yang selama hidupnya memberi manfaat bagi diri dan banyak orang, dan setelah matinya sedekah jariyah terus mengalir masuk ke keburannya dan doa-doa terus dipanjatkan untuknya.
    • Anak juga adalah rezeki, jika mampu mendidiknya dengan baik anak adalah aset paling berharga kita. Mereka menjadi penyemangat saat kita hidup dan kita akan terus menuai pahala dari doa-doa dan kebaikan yang dibuat oleh mereka atas nama kita saat kita sudah terbaring di alam kubur dan tak bisa menambah pahala lagi.
    Semoga tulisan ini memberi manfaat, wallahu alam

    Doa Sama Tapi Rezekinya Beda, Mengapa?

    # MANUSIA ITU PERLU BERDOA
    • Doa adalah puji-pujian yang dilakukan hamba untuk Rabbnya. Doa yang dipanjatkan saat lapang akan menjadi kunci pengabulan doa di saat susah. Allah tahu betul keterbatasan kita sebagai manusia. Oleh sebab itu Dia meminta kita untuk tak segan-segan meminta padaNya. Termasuk minta di mudahkan rezekinya. 
    • Banyak misteri di balik doa minta rezeki seperti halnya pada kisah berikut ini :

    # NENEK TUA YANG SALEH
    • Dikisahkan bahwa zaman dulu hiduplah seorang nenek tua yang miskin dan kelaparan. Suatu hari ia menuju sungai yang kering airnya dan melihat 3 ekor ikan yang megap-megap merindukan air. Saat melihat ketiga ekor ikan tersebut si nenek berseru senang dan berpikir mungkin ini rezeki yang dikirim Allah untuknya. Tapi begitu dia mendekat, si nenek mendengar salah seekor ikan berdoa agar Allah menurunkan hujan. Si nenek awalnya ingin tertawa mendengarnya. Bagaimana akan turun hujan padahal sekarang ini sedang kemarau? Tapi karena kasihan tidak jadi dia menangkap ikan-ikan lemas tersebut.
    • Tidak berapa lama, langit pun berubah gelap, awan=awan saling berimpitan satu sama lain dan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Sungai yang tadi kering akhirnya kembali berair dan ikan-ikan tersebut bersorak senang sambil memuji asma Allah.
    • Akan halnya si nenek terpaku bingung. Kemudian kembalilah dia ke gubuknya yang reot. Kemudian berpikir, jika doa seekor ikan saja dikabulkan Allah, bagaimana kalau manusia yang berdoa? Pasti juga akan dikabulkan seperti halnya ikan itu.
    • Singkat cerita si nenek memperbaiki ibadahnya dan setiap selesai shalat dia pasti memanjatkan doa minta rezeki pada Allah. Tak pernah dia berputus asa meski doanya belum diijabah. Mulanya dia hanya berdoa dalam hati, tapi lama kelamaan ia pun mulai bersuara sekeras-kerasnya sehingga semua orang yang lewat bisa mendengarnya.
    • Tetangganya semua maklum bahwa si nenek sedang memohon kemurahan TuhanNyadan kesabarannya sedang diuji. Mereka membiarkan si nenek terus berdoa dan berharap suatu ketika Allah pasti mendengar doanya seperti Allah mengabulkan doa ikan tadi.
    • Tapi ada seorang saudagar sukses yang pelit yang merasa terganggu dengan doa si nenek. Dia pun mulai memaki-maki si nenek dan memintanya menghentikan doanya karena suaranya yang keras mengganggu istirahat dan tidur lelapnya.
    • Tapi si nenek tidak menghiraukan sang saudagar. Ia terus saja berdoa sesuai apa yang diyakininya dan tak ada yang bisa menghentikannya. Akhirnya karena kesal sang saudagar meminta pelayannya untuk mengisi karung berisi pecahan beling, sampah dan besi-besi berkarat, kemudian memintanya menjatuhkannya ke atas tubuh si nenek dari lobang atap rumahnya. Sambil berseru, "inilah rezeki yang kamu minta nenek tua!".
    • Si nenek yang terkena karung yang berat itupun akhirnya pingsan. Dan setelah terbangun dia melihat ada karung besar di sampingnya. Dia segera membukanya. Dan betapa terkejutnya si nenek mendapati emas, permata dan uang dalam jumlah banyak. Akhirnya dia sujud syukur dan hidup makmur tanpa menjadi sombong dan selalu membantu fakir miskin dan orang yang membutuhkan dengan hartanya.

    # SAUDAGAR YANG SOMBONG
    • Apa yang terjadi dengan saudagar yang sombong? Setelah melihat nenek tua justru mendapatkan emas dari dalam karung yang dilemparkannya, diapun ingin mendapatkan hal yang sama.
    • Dia berdoa persis seperti apa yang didoakan si nenek (dia terlalu sering mendengarnya sehingga membuat dia hapal isi doanya). Ia pun tekun mengulang-ulang doa yang sama seperti halnya si nenek. Kemudian setelah beberapa waktu ia meminta pelayan yang sama untuk menjatuhinya dengan karung yang diisi benda-benda yang sama yang dijatuhkan di kepala si nenek dan karung yang satunya berisi sampah. Luar biasa, dia ingin dapat 2 karung sekaligus.
    • Pada suatu malam si pelayan mulai menjatuhkan karung itu ke atas kepala majikannya lewat lobang atap seperti skenario waktu menjatuhkan karung ke atas kepala si nenek. 
    • Walhasil sang saudagar pingsan selama 2 hari. Dan setelah sadar, terburu-buru ia membuka karungnya, tapi mendapati isi karung tidak berubah. 
    • Sang saudagar kemudian menangis, berteriak dan menyumpahi Allah dengan kata-kata kotor dan tak pantas. Setiap hari ia melakukan hal itu sehingga membuat tetangganya pada tidak suka dan menolak membeli dagangannya. Akhirnya si Saudagar jatuh miskin dan kemiskinannya menyerupai si nenek tua tadi dan menjadi orang yang rutin disedekahi oleh nenek yang akan dicelakakannya tadi.


    # KESIMPULAN

    • Kisah ini mungkin saja fiktif tapi adakah sesuatu yang membuat kedua orang ini mendapatkan rezeki yang berbeda? Bukannya doanya sama? Dua-duanya minta kepada Allah? Lalu mengapa si nenek dikabulkan si saudagar tidak?
    • Apa yang membedakannya saudaraku?
           (1) Niat
    • Si nenek memang niatnya baik, memohon perkenan Allah untuk diberi rezeki agar dapat memberi kemanfaatan bagi banyak orang. Dia yakin bahwa hanya Allah lah yang bisa memperkenankan doaNya, karena tidak ada yang lebih Maha Kuasa dibanding diriNya. Itu sebabnya dia terus berdoa meski orang lain melarangnya.
    • Si saudagar memang niatnya berdoa adalah mendapatkan rezeki berupa harta yang banyak untuk menambah pundi-pundi kekayaannya. Dia berpikir doa adalah cara yang paling mudah untuk mendapatkan duit dan tidak perlu bersusah-susah berusaha seperti yang dilakukannya.
           (2) Ketulusan dan keikhlasan
    • Si nenek terus berdoa dengan tulus ikhlas, memperbaiki ibadahnya dengan tetap bekerja serabutan untuk makan. Dia tahu bahwa keikhlasannya akan berbuah manis berupa jawaban dari RabbNya. Dia siap menerima apapun yang dikirimkan Allah buatnya. Sedikitpun tak apa-apa.
    • Si saudagar hatinya dipenuhi harapan akan harta dan disilaukan oleh intan permata yang dalam khayalannya bakalan diterimanya. Fokusnya bukan pada memperbaiki ibadah, tapi fokus pada harta yang akan diterimanya. Dia sudah mulai menelantarkan usahanya dan berpikir toh harta yang banyak nanti akan diterimanya mengganti semua kerugian yang disebabkan oleh usaha yang hampir bangkrut tersebut.
           (3) Sabar dan berbaik sangka
    • Si nenek demikian sabarnya menanti keputusan Allah atas rezeknya dan senantiasa berbaik sangka padaNya. Ia tahu bahwa kesabaran dan baik sangka akan berbuah manis dan terus menerus meyakinkan dirinya.
    • Si saudagar orang yang tidak sabaran dan berharap Allah segera mengabulkan doanya. Dia terus menerus meminta dan setiap hari keyakinannya semakin menurun. Dan puncak ketidakpercayaannya adalah saat Allah tidak mengabulkan doanya.
          (4) Syukur dan kufur
    • Yang dilakukan si nenek setelah menerima rezekinya adalah bersyukur. Wujud dari kesyukurannya itu adalah menggunakan rezeki yang diberi Allah padanya untuk kebaikan banyak orang. Rezeki tidak hanya digunakan untuk dirinya sendiri tapi banyak orang yang mendapat manfaatnya.
    • Sementara si Saudagar yang memang keyakinannya sudah menipis pada Allah. Semakin marah dan berprasangka buruk padaNya. Dia menganggap Allah mempermainkannya. Padahal tidak ada yang mempermainkannya kecuali dirinya sendiri. Dia tidak terima ketentuan Allah (kufur nikmat) dan mulai memakiNya. Subhanallah, meskipun banyak orang memaki kebesaranNya tetap tidak berkurang. Kemudian bukannya mendekatkan diri pada Allah malah menjauhinya dengan rasa kecewa yang mendalam dan memilih menjadi orang hina yang meminta-minta pada sesama manusia.


    # PEMBELAJARAN

    Kapan Rezeki Menjadi Masalah?

    Rezeki yang diusahakan bisa bikin susah?

    • Mungkin anda bertanya-tanya masa' rezeki bikin susah, bagaimana mungkin rezeki bisa menjadi masalah? Bukankah tiap hari kita bersusah payah mencari rezekinya, masa' begitu dapat, bikin masalah? Kenyataannya ada rezeki yang bikin kita susah dan menjadi masalah bagi keseharian kita. Apa saja itu?

    Kapan rezeki menjadi masalah?

    (1) Apabila rezeki membawa kita kepada kondisi kufur nikmat.
    • Rezeki yang banyak harusnya disyukuri, bukannya membuat kita jadi bangga, sombong, angkuh. Berjalan dengan kepala tegak di atas bumi Allah. Rezeki yang diberi adalah hak prerogatif Allah diberikan pada kita untuk memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi diri, keluarga dan orang lain. Seharusnya membuat kita jadi hamba yang lebih baik, bukannya malah jadi kufur nikmat. Lebih jelasnya bacalah ciri-ciri orang yang kufur nikmat). Artikel jangan sekali-kali mengkufuri rezeki bisa menjawab pertanyaan mengapa kita harus bersyukur atas rezeki?
    • Orang yang kufur nikmat itu berbahaya, karena ia selalu merasa kurang dan ingin yang lenih banyak lagi. Jika diusahakan dengan jalan halal mungkin bahayanya tidak begitu besar. Tapi jika diusahakan dengan jalan yang salah, percayalah balasan Allah sangatlah pedih. Di akhirat dia akan dimintai pertanggung jawaban atas semua harta dan rezekinya yang melimpah itu.

    (2) Rezeki membawa kita yang tadinya saleh jadi salah
    • Rezeki mengubah kualitas kita sebagai hamba yang saleh, yang taat pada Tuhannya di saat susah menjadi orang yang salah dan rajin berbuat dosa dan maksiat saat Allah memberi kelapangan rezeki padanya. Orang seperti ini inilah yang disebut oportunis. Hanya mengangkat tangannya berdoa saat butuh Allah. Begitu keinginannya terkabul, dia lalu lupa dan berbuat seenaknya. Setan membisikkan hal-hal yang terlihat baik di matanya. 
    • Rezeki yang banyak membuatnya mudah melakukan maksiat. Saat susah dan tidak punya uang dia tidak bisa membeli minuman keras atau membayar pekerja seks komersial untuk melayani hasrat seksualnya. Begitu uang telah dimilikinya mulailah dia mengerjakan hal-hal salah, berupa dosa dan maksiat tanpa malu apalagi takut pada Allah. Dia lupa bahwa Allah bisa saja mengambil apa yang telah diberikannya itu.

    (3) Rezeki merubah kita dari alim menjadi lalim
    • Banyak atau sedikitnya rezeki harusnya tidak merubah kita sebagai manusia, karena ukurannya di mata Allah tetap sama, yaitu amal salehnya. Kalaupun rezeki yang banyak harus merubah kita, harusnya merubah ke arah yang lebih baik. Sebelumnya kita hanya bisa berinfak seadanya di celengan mesjid, sekarang bisa membangun mesjidnya. Dulu hanya bisa menyumbang 2 sampai 3 eksemplar Al Quran di TPA sekarang malah bisa mendirikan TPA atau rumah tahfidz.
    • Tapi jika rezeki yang banyak itu membuat kita lalim dan semena-mena pada orang miskin, melupakan anak yatim, menjadi durhaka pada Allah itulah seburuk-buruknya rezeki yang kita terima. Jumlahnya memang banyak, tapi keberkahannya tidak ada. (baca : apakah rezeki yang berkah itu?)

    (4) Rezeki menjadikan kita berkurang iman.
    • Rezeki menjadi masalah saat rezeki membuat kualitas keimanan kita menurun. Tadinya rajin dhuha dan tahajud sekarang tidak lagi karena terlalu sibuk mengurusi harta benda dan rezeki yang diberikan Allah. Tadinya sempat berjamaah di mesjid sekarang tidak lagi karena begitu banyaknya rapat dan meeting dengan klien yang harus dihadirinya, Tadi masih sempat shalat tepat waktu sekarang tak bisa lagi karena waktunya habis menghitung-hitung nikmat Allah.

    (5) Rezeki menjadikan kita jauh dari Allah
    • Rezeki yang tadinya kita minta dalam doa dan sujud disertai cucuran airmata. Begitu diberi kita seolah mengalami euforia, keriangan dan kegembiraan layaknya Orang Kaya Baru. Kita menikmati begitu banyak fasilitas. Dengan kekayaan yang kita miliki kita jadi mudah bergaul dengan kalangan atas seperti pejabat, artis, anggota dewan. Mulailah kita menikmati indahnya dunia yang dulu seolah tak terjamah. Kita lupakan Allah dan sajadah di sudut-sudut rumah. Kita lebih banyak main smartphone ketimbang membuka firman Allah dalam kitabnya. Kita bisa begadang menonton pertandingan bola klub favorit tapi tak bisa bangun saat Allah mengunjungi di sepertiga malam. Kita bisa makan di restoran bintang lima tanpa pernah memperdulikan tetangga yang kelaparan. Kita menahan-nahan harta untuk diri sendiri seolah-olah takut infaknya yang sedikit akan mengurangi jumlah rezekinya.  
    Itulah pembaca... Hati-hati dengan rezeki anda. Dia ibaratnya koin bermata dua. Ibarat sebilah mata pedang. Bisa berguna dan bisa mencabut nyawa, tergantung pada eksekutornya. Siapkah kita menjadikan rezeki itu rahmat dengan menjadikan diri kita lebih baik? 

    Wallahu alam

    Followers

    Pages

    About Me

    My photo

    Saya  apa adanya, senang baca buku, mikir, nulis dan berbagi sedikit ilmu yang saya miliki. Harapan saya sih  ilmu yang sedikit itu bermanfaat, setidaknya untuk saya sendiri. Saya juga menulis blog pribadi lancarrezeki.blogspot.com, berbagidanjadikaya.blogspot.com catatanngocol.blogspot.com, hanya-love.blogspot.com dan belajarlewatquotes.blogspot.com